28 Desember 2010

Terkubur dalam peti...

@Emporium Pluit XXI, studio 1, Dec 27th 2010, 1650 hrs

There was a GRID, before the Matrix... 3D

@Emporium Pluit XXI, Studio 3, Dec 27th 2010, 1435 hrs

Ketika manusia mau berkorban dan Tuhan pun memaafkan...

@Pluit Junction XXI, studio 3, Dec27th 2010, 1245 hrs

21 Desember 2010

09 Desember 2010

A ghost movie without ghost.. before that...

@Gandaria XXI, studio 2, Dec 7th 2010, 1540 hrs

The runaway train has to be stopped

@Gandaria XXI, studio 5, Dec 7th 2010, 1245 hrs

29 November 2010

Avada Kadavra !

@Epicentrum XXI, studio 1, Nov 28th 2010, 1545 hrs

23 November 2010

TAKERS : Geng perampok bank flamboyan

@Blitzmegaplex CP, audi 7, Nov 22nd 2010, 1900 hrs

Sebuah geng perampok bank, yg terdiri dari A.J. (Hayden Christensen), Gordon (Idris Elba), John (Paul Walker), beserta dua bersaudara Jesse (Chris Brown) dan Jake (Michael Ealy); berhasil merampok bank Federal California di Los Angeles. Kehidupan mereka bak sekelompok gangster muda, berpakaian rapi dengan setelan jas dan mobil mahal. Sementara itu, Jack (Matt Dillon) seorang polisi beserta partner-nya Eddie (Jay Hernandez) yg ditugaskan untuk memecahkan kasus tersebut mengalami kesulitan karena usaha perampokan yg berjalan rapi tanpa meninggalkan jejak.

Ghost (T.I.) adalah satu-satunya anggota geng tersebut yg tertangkap waktu mereka beraksi di tahun 2004. Enam tahun kemudian Ghost bebas dari penjara dan menemui teman-temannya untuk sebuah "pekerjaan" baru...

Pertama kali melihat posternya yg bernuansa mafia kota New York, gua sama sekali tidak mengira kalau temanya adalah perampokan bank. Well, film tentang perampokan bank bukanlah sebuah tema baru. Ada HEIST, italian job, bank job, atau bahkan dibandingkan dengan Goodfellas-nya Martin Scorsese, tentu saja TAKERS bukanlah yg terbaik. Karakter-karakter di dalam film berdurasi 105 menit ini mudah tertebak kalau memang tidak mau dibilang klise. Akting Paul Walker tampak tidak berkembang sejak gaya Fast and Furious, tipikal nice guy from next door, begitu pula dengan aktor lainnya. Mungkin skrip film kelas B ini memang tidak memerlukan akting yg bagus. Yang justru menonjol adalah akting Idris Elba dan Marianne Jean-Baptiste yg berperan sebagai Naomi kakak perempuan Gordon. Matt Dillon juga terasa pas sebagai polisi yg berdedikasi. Karakter Zoe Saldana sebagai Lilly betul-betul wasted. Sejak Avatar, tidak ada lagi filmnya yg booming.

Terlepas dari ending-nya yg tidak sesuai harapan, gua cukup puas dengan film yg didominasi oleh aktor-aktris kulit hitam ini. Alur cerita yg cepat dengan adegan aksi demi aksi bisa menahan penonton untuk betah di tempat duduknya. Dengan ending seperti itu, mungkin sang penulis cerita ingin memberikan sebuah solusi paling realistis, tidak seperti film Die Hard, di mana karakter Bruce Willis tidak pernah mati dan selalu berhasil menangkap penjahat.

Not so original but quite entertaining, 6.5 out of 10 stars

21 November 2010

INAFFF : My Ex 2 (Fan Mai)

@Blitzmegaplex GI, Audi 8, Nov 20th 2010, 1700 hrs

Film yg ga ada hubungannnya dengan seri pertamanya ini menceritakan seorang gadis cantik bernama Cee, yg mendapatkan peran pertamanya dalam sebuah film atas bantuan kakak tirinya yg udah jadi seleb terlebih dahulu, Bowie. Namun sejak kematian wanita selingkuhan pacarnya, Cee selalu dihantui oleh wanita tersebut. Bahkan ketika Cee dan Bowie harus suting di sebuah pulau milik Karn, hantu itu terus mengganggunya...

Film yg berdurasi 85 menit ini sukses membuat gua terus-terusan menguap pada 2/3 pertamanya. Bisa dibilang film ini saingan berat semua film besutan "sutradara film horor lokal paling produktif" saat ini yg punya banyak nama alias, siapa tuhhh..? Setannya suka muncul dan ngilang seenak jidat di mana aja, tapi kaga nakutin sama sekali. Lebih banyak frekuensi gua menguap daripada munculnya si setan sendiri. Betul-betul capek ngeliatnya, mungkin si setan juga capek kali yak.... at least tuh setan dapet bayaran, dan gua harus bayar tiket ngeliat setan yg sedikit pun kaga nakutin itu! Bedanya, film besutan "sutradara film horor lokal paling produktif" itu lebih hemat listrik dalam pemakaian lighting.
Plus, film ini tidak dapat menghindari formula usang dari sebuah film horor yg sudah kehabisan cerita yakni mimpi di dalam mimpi, cape de.... tentunya jumlah level mimpi di film ini masih kalah dengan jumlah level mimpinya Chris Nolan.
Sedikit info, film pertamanya sendiri bercerita tentang selebritis cowok yg playboy, sampai-sampai salah satu pacarnya ada yg bunuh diri karena udah hamil duluan, dan berusaha membunuh semua pacarnya yg lain termasuk akhirnya ngebunuh si seleb itu sendiri. Klise banget kan.... Sebetulnya gua agak under-estimate film pertamanya karena cerita yg sinetronis banget, tapi lumayan lah buat hiburan.

Well, yg kedua tetep make karakter selebritis, cuman kali ini tokoh utamanya adalah seleb cewek. tapi yg kedua ini jauh jauh lebih cemen... ga penting banget untuk difilmkan karena twist-nya cuman segitu doank, di mana film pertamanya punya twist yg lebih "twisted". Latar belakang sang antagonis sama sekali kurang kuat untuk mendukungnya ngelakuin semua kejahatan itu. Apalagi ketika ber-setting di pulau, wadoh... PULAU HANTU banget dah! Bedanya, film PULAU HANTU lebih banyak menampilkan adegan bikini dari para aktrisnya daripada film thailand yg satu ini.
Bener-bener gila kalo ada penonton INAFFF yg bilang film ini bagus karena ga pernah menyadari kalau film kayak gini banyak berseliweran di kancah perfilman nasional, apalagi kalau bukan film besutan "sutradara film horor lokal paling produktif" saat ini.

Saking desperado-nya film ini karena gagal membuat para penontonnya "terperangah", ending film pun menampilkan aktor Ananda Everingham (SHUTTER) untuk bagian yg tidak penting. Ibarat slogan sebuah iklan rokok di televisi : "Gak ada lo, ga rame!"; maka penampilan Ananda di sini : "Meski ada lo, tetep kaga rame!"
Sekali lagi, film ini bener-bener kaga penting!

Sedikit info, FAN MAI termasuk film baru karena baru beredar di minggu pertama bulan November di negara asalnya.

Lagi-lagi masukan buat panitia penyaring film INAFFF, boleh dink tahun depan memutarkan film horor karya "sutradara lokal paling produktif saat ini", supaya para audience lokal tau kalau sutradara itu "engga kalah hebat"nya dengan sutradara film horor thailand, hehehehehee...

19 November 2010

the CRAZIES

@Puri XXI, Studio 2, Nov 18th 2010, 1900 hrs

Skyline

@Puri XXI, Studio 1, Nov 18th 2010, 1730 hrs

Behind the Facebook

@Puri XXI, Studio 7, Nov 18th 2010, 1530 hrs

Retired Extremely Dangerous

@Puri XXI, Studio 5, Nov 18th 2010, 1245 hrs

INAFFF : The Disappearance of Alice Creed

@Blitzmegaplex, Audi 8, Nov 17th 2010, 1930 hrs

INAFFF : The Clinic

@Blitzmegaplex, Audi 4, Nov 17th 2010, 1710 hrs

INAFFF : Snarveien

@Blitzmegaplex, Audi 4, Nov 17th 2010, 1500 hrs

15 November 2010

The empress' Detective...

@Plasa Senayan XXI, studio 6, Nov 14th 2010

01 November 2010

Hati-hati bila mendaki gunung

@Puri XXI, studio 6, Nov 1st 2010, 1935 hrs

Film bergenre thriller produksi Prancis ini bercerita 5 sekawan : Chloe, Loic, Guillaume, Fred dan Karine yg mengadakan mountain trip. Chloe, berprofesi sebagai dokter adalah pacar Loic, sementara Guillaume adalah mantan Chloe. Sepanjang perjalanan, Loic cembokur terhadap Gui, sedangkan Fred adalah sahabat Loic, yg menjadi inisiator perjalanan tersebut. Singkat kata, pendakian mereka ke gunung Risnjak, Krosia hampir terhenti karena jalan pendakian telah ditutup. Sudah dapat ditebak kalau mereka melanjutkan pendakian karena Fred memaksa mereka untuk terus dengan memanjat tebing. Bukan film thriller namanya bila mereka tidak mengalami kesulitan seperti jembatan yg putus sampai mereka sadar kalau pendakian itu memang telah ditutup selamanya, namun semuanya terlambat karena mereka telah menjadi target perburuan seseorang yg misterius...

Sudah banyak film seperti ini yg memakai formula sejenis, sekelompok anak muda yg mengadakan perjalanan ke tempat asing dan menjadi target perburuan orang gila. Ada Wrong turn dan Hostel dari Hoolywood, Wolf Creek dari Australia, Manhunt dan Cold Prey dari Norwegia.

29 Oktober 2010

The pre-historic flesh-eating fishes in 3D

@Puri XXI, studio 6, Oct 29th 2010, 1920 hrs

Piranha... entah sudah berapa banyak film tentang ikan purba ini pernah dibuat untuk konsumsi tivi dan layar lebar. Yg jelas film produksi 2010 yg disutradarai Alexander Aja ini mempunyai alur cerita yg sangat simpel dan mudah ditebak, tidak perlu berpikir, cukup dengan menikmati minuman dan makanan Anda, tapi jangan kekenyangan, bisa jadi Anda muntah karena eksploitasi adegan "kanibal" yg dilakukan oleh ikan-ikan piranha terhadap manusia.

Terjadi aktivitas seismik (istilah kerennya gempa) di dasar danau Victoria yg menyebabkan terbukanya jalan penghubung ke "danau lain" yg dihuni ribuan ikan piranha, ikan yg dianggap punah sejak 2 juta tahun lalu. Tidak jauh dari sana, ratusan anak muda berpesta dan berkumpul untuk liburan musim semi. Sementara itu sheriff Julie (Elisabeth Shue) yg bertugas untuk "mengamankan" pesta musim semi itu langsung memperingatkan para anak muda untuk segera keluar dari danau, setelah dia mengetahui kejadian yg sebenarnya.

Ada pula produser situs internet porno yg diperankan Jerry O'connel dengan personilnya "Wild girls"nya, Danni dan Crystal yg mengadakan suting di danau tersebut, tanpa menyadari kehadiran ikan-ikan tersebut.

Well, siapakah yg menjadi korban dari ikan-ikan tersebut memang tidak penting. Gua menyebut film ini sebagai exploitative fun-gore movie. Dua hal yg dieksploitasi habis-habisan di sini tanpa rasa bersalah yakni adegan potongan tubuh manusia yg dimangsa oleh piranha (ataupun karena hal lain) dan juga 3B (bikinis, booti*s, dan bo*bies). Tujuan "menghibur" penonton lewat dua poin di atas bisa dibilang berhasil, adegan ikan piranha yg "menggerogoti" tubuh manusia cukup disturbing. Akibatnya sensor sekitar 4 menit pun tak dapat terhindarkan lagi, meskipun banyak juga yg kelolosan .... Sebetulnya adegan sadis di film ini bisa dibilang mempunyai kadar yg berbeda dengan film-film "mutilasi" seperti SAW, Hills have eyes, Texas Chainsaw yg cenderung lebih serius; justru malah dapat memancing senyum geli penonton di beberapa adegan. Namun saking tanpa rasa bersalahnya, adegan demi adegan yg terjadi di danau Victoria pun menjadi garing... Ibarat makan kacang yg garing, mulanya terasa enak dan kelamaan menjadi biasa aja, tapi tetap dimakan terus ...

Buat penonton yg jeli, ada satu-dua adegan yg mungkin tidak "sinkron", seperti air danau yg tiba-tiba menjadi bersih padahal baru semenit sebelumnya masih penuh dengan darah dan mayat-mayat yg mengapung. Atau ada tokoh utama yg jatuh ke air dan tidak diperlihatkan lagi kelanjutan nasibnya.

Para aktor-aktris utama film ini bukanlah pemain baru di Hollywood, seperti Ving Rhames, Elisabeth Shue, Jerry O'Connel, dan Richard Dreyfuss; mungkin karena mereka tidak laku lagi bermain di filmlayar lebar sehingga diambillah peran tersebut. Soal akting?? Hmmm.... tidak perlu akting susah-susah di film ini, cukup mengucapkan dialognya saja.
Bagaimana dengan fitur 3D yg ditawarkan film ini? Sama seperti Last Airbender, sebetulnya Anda cukup menonton versi 2 dimensinya saja, apalagi beberapa adegan penting telah dibabat sensor.
Akhirnya, semua penilaian bagus atau tidaknya film ini berpulang kepada penonton, apakah Anda termasuk penggemar film berisikan adegan sadis berdarah-darah? atau sebaliknya merasa terganggu dengan adegan tersebut?

Kalau buat gua sih... i have no problem with those... that's why i give 6.5 out of 10 stars

Jangan beranjak dari tempat duduk Anda sampai film benar-benar berakhir.






23 Oktober 2010

The biggest battle of dancing in 3D

@Puri XXI, studio 6, Oct 23rd 2010, 1440 hrs

Luke (Rick Malambri), cowok yg terobsesi untuk menjadi seorang film-maker sedang membuat sebuah film dokumenter mengenai dance berjudul "Born from a boom-box". Luke juga mempunyai sanggar yg disebutnya sebagai "The Vault", sebuah tempat latihan dance untuk mereka yg serius. Well, rupanya dia juga "berprofesi" mengumpulkan orang-orang yg berbakat untuk latihan di sanggar itu tanpa menarik uang iuran... How generous this guy is! Bukan cuman itu aja, sanggar itu mempunyai sebuah klub malam bawah tanah bagi anak muda yg hobi dance... Dan anehnya, tidak terlihat pengunjung yg minum-minum, cuman nge-dance doank. Ngapain juga bayar uang masuk klub cuman buat nge-dance doank yak?? Rupanya Luke dihadang masalah ketika sanggar bawah tanah itu akan disita oleh bank karena uang sewanya tidak dibayar selama 5 bulan. Luke bilang, bisnis klub malam juga sedang lesu, emang klise nih.... Satu-satunya jalan keluar, Pirates (begitulah Luke menamakan kelompok dance-nya) harus memenangkan kompetisi dance "World Jam" berhadiah utama 100.000 dollar!
Aneh juga sih, padahal sanggar itu dipenuhi barang-barang mahal, kayak segudang sepatu Nike limited edition, segunung stereo buat latihan dan dua perangkat komputer canggih yg dimiliki Luke untuk meng-edit film dokumenternya, tapi ga mampu bayar uang sewa, jiahhhh.... Sementara itu, Julien (Joe Slaughter) pemimpin kelompok Samurai yg tajir dan merupakan rival utama Pirates, mengancam akan membeli the Vault, bila Pirates tidak mundur dari kompetisi.

Tiba-tiba muncul Natalie, diperankan oleh gorgeous beauty french-look, Sharni Vinson. Singkat kata, Luke menawarkan tempat tinggal dan jatuh cintrongg (sesuai dengan dugaan dan keinginan penonton tentunya).....tanpa tahu asal-usul yg jelas cewek yg satu ini. Yg penting cakep dan sama-sama suka dance lah....

Kemudian ada Moose (Adam G. Sevani) yg menarik perhatian Luke untuk mengajaknya bergabung dengan kelompok Pirates. Tokoh yang sudah muncul sebelumnya di seri kedua, dikisahkan masuk tahun pertama kuliah jurusan teknik di NYU bersama sahabat masa kecilnya, Camille (Alison Stoner). Jalan cerita yg menunjukkan chemistry Camille dan Moose tampak lebih baik daripada Luke dan Natalie sendiri. Adegan street-dancing dengan irama klasik yg ditampilkan duo Moose-Camille sangat musikal. Moose memang aktor utama dari film berdurasi 107 menit ini. He really can dance! Bandingkan dengan Luke ketika melibatkan diri dalam babak pertama kualifikasi World Jam. Di bagian awal dia ikutan nge-dance, namun di tengah-tengah dia malah ngobrol dengan penonton di pinggir dan kemudian muncul lagi di ending act-nya. WTF?? He is only dancing a 'lil bit in this movie. Salahkan si penulis skenario tentunya... Atau mungkin agak sulit mencari aktor sekaligus bisa nge-dance (walau dikit) dan bertampang komersil seperti pemeran Luke. Oke lah kalo begitu...

Sesuai dugaan, kelompok Pirates dan Samurai harus duel maut dalam final kompetisi World Jam. Bukan suatu spoiler juga, kalau Pirates adalah pemenangnya. Cukup aneh, kemenangan Pirates ditentukan oleh tarian dua menit duo Luke-Natalie yg sebetulnya tidak berkesan sama sekali dan merupakan koreografi terjelek di film ini, meskipun harus gua akui bila gaya tersebut merupakan ciri khas dari trilogi ini. Lagi-lagi, dalam kompetisi final ini, tokoh Luke hanya menjadi penari "figuran" saja.

Well, lupakan jalan ceritanya yg ringan dan mudah ditebak dengan akting standar para bintang muda yg kurang terkenal, film ini memang tidak menjanjikan apapun selain koreografi dance yg keren abis!! Berpadu dengan musik, kostum dan visualisasi 3D yang wow...! Adegan balon, gelembung udara, serpihan tepung (ataupun apapun itu), dan close-up dance-nya betul-betul amazing! Gua suka banget dengan penari bergaya robot. Mungkin kalau kelompok Pirates dan rival-nya ikutan audisi IMB dan IGT, gua yakin banget para juri akan berkata : "kalian lanjut!". Tapi sayang ini bukan acara reality show...

Sepertinya film dance seperti ini cukup laris manis di pasar lokal. Overall, untuk ukuran film dance, Step Up 3 tergolong memuaskan, menghibur, dan tidak membosankan, a must see in 3D!! It is much much better than Street Dance that i watched last month. Bahkan penonton tanpa sadar akan bergoyang sendiri di tempat duduk ketika menonton film ini.
I like to moose it, moose it...

7.5 out of 10 stars...


19 Oktober 2010

The other (stupid) guys...

@Puri XXI, studio 7, Oct 18th 2010, 1915 hrs

18 Oktober 2010

Eat in Italy, pray in India, love in Bali..., and suck...

@Epicentrum XXI, Studio 1, Oct 16 2010, 1830 hrs

Hmmm... penonton film Jakarta berbondong-bondong menyaksikan film berdurasi 140 menit ini karena promosi suting yg dilakukan di Bali, belum lagi melibatkan aktris senior Christine Hakim dan beberapa pemain lokal baru. Dan hasilnya adalah... nanti dulu...

Elizabeth Gilbert (Julia Roberts) , seorang wanita New Yoker berusia hampir 40 tahun, yg "katanya" mengalami depresi dalam kehidupan pribadinya, karena merasa tidak betah tinggal dengan suaminya Stephen (Billy Crudup) yg "dikisahkan" adalah seorang pria baik, dengan pekerjaan baik pula, tidak selingkuh, begitu mencintai istrinya. Tapi entah kenapa Liz Gilbert yg "katanya" depresi (sori banget sengaja gua ulang) ini minta cerai dan menginginkan keluar dari kehidupannya yg dijalaninya selama ini. Ia ingin mengalami sebuah perubahan hidup walaupun harus membagi hartanya kepada Stephen supaya Stephen mau bercerai. Asik juga yg jadi suaminya yak! Sementara itu dia juga mengalami "affair" dengan seorang pengangguran muda yg "dikisahkan" adalah seorang ahli yoga dan aktor gadungan berusia 28 tahun, David Piccolo (not Pikacu). Tanpa alasan yg jelas, dia juga merasa kaga betah dengan David, akhirnya Liz mengambil sebuah keputusan pergi ke Italia untuk meningkatkan nafsu makannya. Kenapa harus ke Italia? apakah di New York sudah tidak ada makanan yg enak?? Ga jelas emang, setau gua sih... untuk meningkatkan nafsu makan kita harus hidup sehat, olahraga dan istirahat cukup. Hm... Liz Gilbert memang sudah ga jelas dari awal apa maunya. Di Italia (Roma) dia bertemu dengan teman-teman baru yg dianggapnya sebagai keluarga sendiri. Kasian amat nih orang, nyari temen aja perlu sampe ke luar negeri...

Setelah 4 bulan di Itali, dia pun terbang ke India (lupa ke daerah apa) untuk belajar meditasi dengan seorang guru (master) meditasi kenalan David. Memang ga jelas apa agama Liz Gilbert ini, di bagian awal dia kurang tertarik dengan meditasi dalam bahasa sansekerta, di mana dia harus bangun pagi-pagi dengan duduk bersila dengan sekelompok orang tanpa sang Guru ada di sana, hanya fotonya saja! Ada di mana sang Guru? ga penting juga si... Akhirnya dia cuman bisa sharing dengan Richard, pria tua dari Texas (diperankan Richard Jenkins). Bla.... bla.... bla... tanpa pengalaman spiritual yg mendalam dan jelas, Liz akhirnya berhasil konsentrasi dalam bermeditasi.

Singkat kata dia pun terbang ke Bali, karena dia ingin memenuhi janjinya bertemu lagi dengan Ketut, seorang bapak tua peramal yg ditemuinya setahun lalu ketika berkunjung ke Bali.
Well, Ketut pun menyarankan dia tetap meneruskan meditasi yg dipelajarinya di India setiap pagi. Sampai akhirnya dia bertemu dengan pengusaha paruh baya dari Brazil Felipe (javier Bardem) dan bla.. bla... bla.... mereka pun jatuh cinta.

Pemilihan Julia Roberts sebagai Liz Gilbert memang tepat! Ditinjau dari segi usia Julia dan Liz asli tidak berbeda jauh. Kegagalan utama di film ini adalah kurang dalamnya eksplorasi karakter Liz dan kehidupan pribadi yg "katanya" kurang seimbang. Sepanjang film ini dia hanya terlihat sebagai seorang "wanita biasa" yg tidak depresi-depresi amat, just like any others mature women. Ada dua dialog utama di mana Liz harus bertengkar dengan Stephen ketika menuntut perceraian dan Felipe di Bali, 2 adegan tersebut terbangun kurang mulus dan akhirnya adegan pertengkaran itu menyisakan kerutan di dahi penonton, sambil bergumam, apa seeehhh....atau istilah kerennya WTF??

Bagian terbaik film ini adalah Itali, dalam satu adegan ketika Liz memakan Spageti dengan irisan musik Italiano, terlihat perfecto dan lezato... maknyussss bagaikan sebuah iklan spaghetti La F*nte di tivi. Kata "EAT" memang berhasil diwakili oleh bagian ini.
India, seharusnya bagian ini menjadi bagian paling spiritual yang diwakili oleh kata "PRAY" tapi penonton malah disuguhi dialog perdebatan nalar antara Richard dan Liz, plus curhatan Richard yang meninggalkan keluarganya di Texas... Scoring musiknya gagal untuk mewujudkan rasa spiritual ke dalam benak penonton. Nuansa Indianya pun kurang nendang, mungkin scoring-nya harus manggil A.R. Rahman (komposer film Slumdog Millionaire) kali yeeee....
Bali.... bagian ini adalah bagian serba tanggung, ada beberapa scenery yg berhasil ditangkap melalui cinematografi tapi kurang maksimal, bahkan tari kecak dan musik Bali sama sekali tidak dihadirkan!! Penonton malah disuguhkan lagu brazil berirama Waltz!! Chemistry Felipe kurang klik dengan Liz, entah bagaimana dia bisa jatuh cinta dengan Liz, hm... mungkin karena sama-sama duda dan janda kali yeeee... Romantisme film ini masih jauh dari kata "LOVE" yg diwakilinya.
Ryan Murphy sebagai sutradara yg "katanya" pernah menyutradarai beberapa episode serial GLEE, tidak pernah tahu bagaimana musik dan budaya Asia. Seharusnya dia bisa "membajak" sutradara ternama lokal ketika suting di India dan Bali supaya bisa menghidupkan suasana sesuai dengan setting cerita.
Tokoh yg mencuri perhatian penonton adalah pemeran Ketut dan istrinya yg ampunnnn... nyeletuk mulu yak, but hey i like both of them! Good job...
dan sebuah preformance yg tidak terlalu berkesan dari Christine Hakim... yah lupakan.... itung-itung buat go international lah...

Lalu, seberapa depresikah Liz dan seberapa pentingnya, sampai-sampai dia harus melakukan perjalanan ke tiga negara itu? Ga jelas dahhhh....

6 out of 10 stars,
not too inspirational and not deep enough...




01 Oktober 2010

The Experiment : Percobaan di penjara

@Blitzmegaplex CP, audi 9, Sep 30th 2010, 1630 hrs

Sehabis darah garuda, langsung nyambung film berdurasi 95 menit ini. Merupakan re-make dari film Jerman berjudul sama mengisahkan tentang 26 pria yg dibayar untuk melakukan serangkaian percobaan sebagai napi dan sipir di sebuah penjara buatan selama 14 hari, yg diselenggarakan oleh sebuah perusahaan swasta ga jelas.
Terpilihlah ada 8 orang sebagai sipir dan sisanya sebagai napi. Sebetulnya mereka hanya perlu melakukan tugasnya sesuai peran layaknya sebuah permainan, dengan peraturan tertentu, apabila terjadi kekerasan ataupun salah satu dari mereka ingin keluar, maka permainan tersebut berakhir dan mereka tidak akan dibayar!

Adalah Travis (Adrein Brody) yg ikut dalam permainan itu sebagai napi. Kepribadian yg berani dan loyal terhadap sesama napi, membuatnya dibenci oleh Barris (Forest Whitaker) yg terpilih sebagai sipir. Percikan-percikan kecil terjadi di antara sipir dan napi yg menyebabkan perlawanan para napi menjelang akhir cerita.
Film ini masih berada di bawah ekspektasi gua, sebagai film yg seharusnya penuh dengan aksi kekerasan. Tapi gua yakin versi Hollywood ini jauh lebih soft dibandingkan versi aslinya. Gua mempertanyakan bagaimana sipir yg cuman 8 orang itu bisa dengan mudah mengisolir (menangkap satu per satu) setiap napi yg dua kali lebih banyak jumlahnya. Klimaks perlawanan napi melawan sipir penjara kurang terasa hype-nya. Apalagi sipir penjara terlihat fine-fina saja setelah digebuki oleh para napi, padahal jumlah mereka lebih sedikit (lagi-lagi..).
Akting Adrien dan Forest memang tidak jelek, mungkin mereka terjebak dalam skrip dan setting yg agak sempit... film ini sendiri memang lebih berfolus pada dua tokoh ini saja. Seharusnya film ini bisa mengeksplorasi lebih banyak sisi psikologis para napi dan sipir yg "terkungkung" di mana keseharian mereka adalah para warga sipil yg bebas.

6 out of 10 stars..

Darah Garuda... darahnya kurang nih...

@Blitzmegaplex CP, audi 7, Sep 30th 2010, 1445 hrs

Berhubung udah nonton yg pertama, jadi yg kedua harus ditonton juga! Tinggal blitz aja yg masih muter film ini, sekalian gua menghabiskan voucher nonton summer pasport.
Melanjutkan ending dari film pertamanya di tahun 1947, setelah Amir (Lukman Sardi) dan kawan-kawan berhasil melumpuhkan truk pengangkut bahan bakar yg ditumpangi Mayor Van Gaartner (Rudy Wowor). Ven Gaartner berhasil ditawan dengan tujuan untuk "ditukar" dengan Senja (Rahayu Saraswati) dan istri Amir, Melati (Astri Nurdin) yg ditawan dan bekerja paksa di perkebunan kopi. Kedua wanita itu berhasil diselamatkan namun Van Gaartner juga berhasil meloloskan diri.
Selanjutnya cerita pun bergulir kelompok anak muda itu bergabung dengan tentara Jendral Sudirman dan Amir pun diangkat sebagai kapten. Tomas (Donny Alamsyah), Dayan (Teuku Rifnu) dan Marius (Darius Sinathrya) diberi pangkat Letnan. Keempat orang itu bekerja sama dengan anak buah Jendral yakni Sersan Yanto (Ario Bayu) dan prajurit Budi (Aldy Zulfikar) ditugaskan untuk menyerang lapangan udara Belanda. Ketika mereka akan berangkat ke lapangan udara dengan mobil, terjadi penghadangan oleh tentara Belanda yg dipimpin oleh Gaartner sendiri. Terjadi tembak-menembak dan menimbulkan korban di semua anak buah Jendral Sudirman. Dayan sendiri tertembak dan ditawan oleh Gaartner. Akhirnya para pejuang yg tersisa sepakat untuk berjalan kaki, sementara Yanto meneruskan naik mobil untuk mengelabui tentara Belanda yg terus mengejar mereka. Kemudian Amir dkk bertemu pejuang separatis Islam yg dipimpin oleh Kiai siapa gitu (Alex Komang). Kelompok separatis itu pada awalnya menawan Amir dkk, tapi malahan mendukung rencana Amir yg ingin menghancurkan Belanda dengan memberikan bantuan bom. Apakah rencana Amir dkk berhasil?

Meskipun film ini dikategorikan film epik-thriller, sebetulnya film ini tidak terlalu menarik untuk ditonton karena alurnya agak membosankan, dialog dan adegannya kurang bisa menggugah emosi penonton, apalagi sampai membangkitkan rasa nasionalisme (apa karena film ini disutradarai dan ditulis oleh orang asing yah??), sungguh patut disayangkan, padahal itu yg menjadi poin utama sebuah film perjuangan. Diwarnai beberapa adegan kilas balik dari film pertamanya yg menggambarkan perbedaan latar belakang anak muda itu. Ada Senja (Rahayu Saraswati) yg mempunyai ibu seorang Belanda, namun kedua orang tuanya dibunuh oleh penduduk lokal yg begitu membenci Belanda. Kakak Senja yakni Surono (Zumi Zola) yg tewas di film pertamanya. Raut wajah Rahayu sendiri terlalu "indonesia asli" untuk menggambarkan dirinya sebagai keturunan campuran. Penampilan Atiqah Hasiholan sebagai wanita penghibur yang trauma Lastri, tidak terlalu penting, bisa digantikan oleh aktris lain. Alex Komang... awalnya gua kaga ngeh kalau dia mewakili tokoh fiktif dari Tentara Islam Indonesia sampai gua membaca sinopsis film ini, seinget gua tidak diberi keterangan apapun di layar. Tadinya gua pikir bagian ini ga penting banget, baik tokoh Kiai dan anak buahnya. Apalagi dialog antara Amir dkk dengan anak buah kelompok separatisme terasa kaku dan aneh.

Lukman Sardi (lagi-lagi...), i have no more comment about this actor. Penampilan 3 aktor utamanya oke lah, walaupun bukan akting kelas 1. Overall mungkin Teuku Rifnu yg paling menonjol di antara mereka berempat.

Poin plus film ini adalah adegan tembak-menembak dan ledakan yg real, karena film ini memang menyewa para spesialis dari Hollywood. Tampaknya bujet film ini memangl ebih banyak dialokasikan untuk urusan yg satu ini, akibatnya skrip cerita dan penokohan yg kuat pun terabaikan.
Kalau di film pertama, ada adegan bloopers di mana ada perut mayat yg masih kembang-kempis. Di film ini sih kaga ada, yg ada hanyalah tentara Belanda yg menembaki 4 tokoh utama kita yg dibuat terlihat bodoh... Yap, tentara Belanda di film ini dibuat bodoh sekali dalam kemampuan tembak-menembak. Bayangkan saja, ketika tokoh Tomas melompati sayap kapal terbang yg satu ke yg lain di ruang terbuka, dan tidak ada satu pun tembakan dari tentara Belanda yg mengenai Tomas... padahal yg nembak banyak gitu lohhh....
Kebodohan tentara itu makin memuncak ketika Amir nekat menembaki tentara Belanda tanpa ada bantuan dari teman-temannya di tengah-tengah lapangan udara dan tentara Belanda bersembunyi di balik karung goni, tidak ada satu tembakan yg mengenai Amir. Bahkan ada satu adegan ketika muncul Mayor Van Gaartner yg mau menembak Amir tapi kehilangan senjatanya, dan Amir pun tersenyum berasa menang, adegan ini dibuat sedikit slow-motion, tapi tidak ada satu pun tentara Belanda yg menembaki Amir yg sedang tersenyum menang!! Aseli, goblok banget tuh Belondo! Tapi anehnya ketika Amir berhasil masuk ke lumbung padi, di dalam lumbung itu Amir malah kena tembak.... bravo untuk wong Londo!!

5.5 out fo 10 stars

Antara gempa bumi, pengorbanan, dan keluarga

@Emporium XXI, studi0 3, Sep 30th 2010, 1145 hrs

Film yg menjadi box-office di China dan berdurasi 135 menit ini (tapi sepertinya sengaja dipotong-potong tinggal 130 menit aja untuk mengejar durasi) mengisahkan sebuah cerita fiktif berlatarbelakang gempa bumi Tangshan di tahun 1976. Li, seorang istri yg kehilangan suaminya, dipaksa harus memilih salah satu anak kembarnya untuk ditolong dari reruntuhan gempa karena tiang beton bangunan yg menimpa kedua anaknya di setiap ujungnya. Akhirnya Li memilih anak laki-lakinya, Fang Da untuk diselamatkan, karena Fang Deng sudah tidak bersuara lagi. Namun tak disangka-sangka Fang Deng ternyata masih hidup ketika digeletakkan di tanah, dan dia diangkat anak oleh sepasang suami istri tentara yg menjadi petugas evakuasi gempa, mereka inggal di kota lain. Cerita pun bergulir 10 tahun kemudian, ketika Fang Da dan Fang Deng akan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Fang Da yg tangan kirinya cacat sebelah tumbuh menjadi pemuda yg sering bolos sekolah dan lebih suka menjadi travel-guide. Fang Deng yg memilih jurusan kedokteran, sering mengalami mimpi buruk di tengah malam, rupanya dia menyimpan amarah kepada ibunya karena tidak dipilih untuk diselamatkan.

Ibu angkat Fang Deng meninggal karena kanker dan dia sendiri harus drop-out karena harus menanggung malu telah dihamili oleh senior kampusnya. Fang Deng pun menghilang selama beberapa tahun sampai akhirnya dia kembali bertemu ayahnya dengan membawa seorang anak perempuan. Selanjutnya dia pun menikah kembali dengan seorang pria bule dan tinggal di Kanada.

Sedangkan Fang Da sendiri yg ga jelas kuliah apaan, sudah mempunyai perusahaan travel sendiri dan menikah dengan wanita cantik, sementara ibunya tetap tinggal di Tangshan dan tidak mau pindah.
Ketika anak Fang Deng berusia 18 tahun terjadi kembali gempa bumi di China dan dia menawarkan diri sebagai sukarelawan, di sanalah kedua saudara kembar itu bertemu karena Fang Da juga menjadi sukarelawan...

Ini film kedua yg membuat gua mewek setelah My Name is khan... akting para aktor-aktrisnya memang bagus, terutama akting sang ibu yg terlihat tetap tegar namun rapuh di dalam.
Film ini lengkap dalam membahas hubungan keluarga, antara ibu dan anak, suami dan istri, istri yg setia kepada suami dan sebaliknya, anak yg berbakti kepada orang tuanya, istri yg harus mengalah demi suaminya, memang banyak yg bisa dipetik dari film ini dengan latar belakang kehidupan budaya China.
Scoring-nya juga oke ditambah adegan gempa efek yg real, ga kalah dengan film Hollywood (sayang cuman 5 menitan). Tentunya jangan berharap ini adalah sebuah film natural disaster ala Hollywood seperti Armageddon dan 2012. Mungkin film ini bisa dibandingkan dengan film Deep Impact, di mana porsi drama menempati hampir semua bagian film.
Satu-satunya kekurangan dari film ini adalah penampilan wajah aktor-aktrisnya yg kurang meyakinkan sesuai dengan umur mereka, di mana film berjalan dalam rentang 1976 sampai 2008, ketika Fang Da dan Fang Deng berumur 40 tahun. Bayangkan mereka memakai aktor dan aktris yg sama untuk penokohan 18 tahun sampai 40 tahun!! Aktor pemeran Fang Da terlalu tua untuk anak 18 tahun dan sebaliknya aktris pemeran Fang Deng terlihat terlalu muda untuk tokoh 40 tahun, kegagalan dari segi make-up! Sebaiknya mereka memakai tiga aktor/aktris untuk film dengan rentang waktu puluhan tahun seperti ini.

Ketika menonton film ini masih ada sedikit subtitle bahasa Indonesia yg tidak muncul, hal ini memang sering terjadi di film mandarin yg diputar di bioskop dan terselip adegan yg membuat penonton bingung seperti peristiwa kematian Mao Zedong di tahun 1976 ataupun tragedi Tiananmen di tahun 1989 (tidak digambarkan secara eksplisit di sini).

7 out of 10 stars

Sang Pencerah, memang mencerahkan...

@Pejaten XXI, studio 2, Sep 29th 2010, 1915 hrs

Terus terang gua tidak berharap apa-apa ketika akan menonton film ini, kata orang-orang yg udah nonton sih bagus.. Well, gua pikir ga ada salahnya juga menonton, sebagai movie-lovers, seharusnya gua ga boleh mendiskriminasi film yg akan gua tonton bukan? Lagipula gua suka dengan film sejarah... Dan teman-teman gua pun komen, "hah.. ngapain lo nonton film kayak gitu??"

Muhammad Darwis lahir di jogja tahun 1868, pada umur 15 tahun pergi ke Mekkah dan kembali 5 tahun kemudian, Darwis muda (Ihsan Taroreh) mengganti namanya menjadi Akhmad Dahlan (diperankan oleh Lukman Sardi). Sepulang dari Mekkah beliau menikah dengan Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca) dan mendirikan langgar (surau) di depan kediamannya. Pandangannya tentang Islam yg lebih modern namun tetap taat mendapat pertentangan dari masyarakat sekitar termasuk keluarganya sendiri. Sampai akhirnya berdirilah organisasi Muhammadiyah yg bergerak di bidang sosial dan pendidikan pada tahun 1912.

Gua pikir Hanung berhasil menyampaikan pesan sesuai dengan judulnya, Sang Pencerah. Tokoh Akhmad Dahlan digambarkan sebagai seorang muslim namun terpelajar, berusaha mengubah pandangan masyarakat yg selama ini dianggap benar seperti melakukan persembahan sesajen, menghadap ke kiblat yg salah, dan pendidikan modern. Lepas dari propaganda agama yg terkandung di film ini, film ini berhasil "mencerahkan" pikiran penonton untuk bisa membuka diri terhadap hal yg baru namun bersifat postitif. Terkadang kita selalu berpikir bahwa apa yg dilakukan selama ini adalah benar dan menutup diri terhadap perubahan, bahkan menyebut hal baru itu sebagai sesuatu yg salah (dalam film ini, sesuatu yg baru dan tidak sesuai dengan agama disebut kafir).

Scoring yg bagus dan (lumayan) dramatis sangat mendukung akting para aktor utamanya, yup... karena hampir semua pemain utama di film ini adalah aktor... Simpel, teguh dan idealis, tiga hal ini yg gua tangkap dari pribadi seorang Dahlan yg berhasil diwujudkan lewat akting Lukman Sardi, meskipun bukan akting terbaiknya sih.... Jujur gua agak bosen ngeliat tampangnya yg cukup sering muncul di layar lebar, terhitung sudah 4 film di tahun ini (Tanah Air Beta, Red CobeX, darah garuda, dan film ini), kayaknya dia emang lagi kejar setoran.
Ihsan si jebolan Indonesian Idol juga tidak buruk aktingnya. Yg masih harus diasah mungkin si Giring Nidji, kebanyakan nyanyi soalnya (dibandingkan Ihsan), hehehehe... Zaskia Mecca sebagai istri sang sutradara, ehemm.... gua pikir dia cuman kebagian nangis dan nangis doank di film ini, ternyata ada dialognya juga.
Satu hal yg agak mengganggu mungkin adalah pemilihan Lukman Sardi sebagai Akhmad Dahlan mulai usia 20 tahun-an sampai seterusnya... mungkin sebaiknya Hanung menggunakan 3 aktor untuk hal tersebut, karena efek make-up-nya tidak berhasil yg menyebabkan Akhmad Dahaln terlihat tua di usia awal 20 tahun. Atau cuman Lukman Sardi saja yg memang pantas memerankan tokoh yg satu ini? Hmm... biarlah penonton yg menilai.
Jangan lupa ada figuran Belanda yg muncul beberapa kali di stasiun kereta api di adegan yg berbeda, masa sih ga ada figuran bule lain?? okelah kalo begitu, bukan masalah besar...
Mungkin yg agak sedikit kedodoran adalah setting-nya (maklum karena belum banayk film kita yg ber-setting jadul), penonton tidak terlalu merasa sedang dibawa ke awal tahun 1900-an. Seakan-akan semuanya terjadi di masa kini, namun dengan setting pedesaan dan baju ala keraton aja.
Selain itu time-line yg sempat bolak-balik di pertengahan cerita (tertulis tahun kejadian di bagian bawah pada adegan tertentu) sempat membuat gua bingung, meskipun secara keseluruhan tidak mengurangi esensi film berdurasi hampir 120 menit ini.

7.5 out of 10 stars...

Si pengusir setan atau apa...??

@Pejaten XXI, studio 5, Sep 29th 2010, 1730 hrs

Sama sekali gua tidak membaca sinopsis film ini dan langsung nonton aja, lagipula ga penting juga sinopsis cerita kalau kita bakal nonton juga pada akhirnya... Film ini dikemas secara dokumenter dan sepertinya memang gampang dijual, mengingat bujet film seperti ini tergolong sangat murah untuk ukuran Hollywood.
Pendeta Cotton Marcus (Patrick Fabian) memfilmkan pekerjaan sebagai seorang pendeta sekaligus pengusir setan. Banyak monolog tentang khotbah gereja, setan, agama, keTuhanan, dan juga keluarga dari tokoh ini selama 10-15 menit pertama. Bisa jadi sebagian penonton akan menganggapnya sebagai sebuah propaganda kristen. Sebetulnya Cotton tidak percaya kalau setan itu ada, pengusiran setan hanya dilakukan demi uang saja. Suatu ketika, dia mendapat undangan untuk pengusiran setan dari Louis Sweetzer di Louisiana, yg mencurigai anak perempuannya sering kerasukan setan di tengah malam dan membunuh ternak piaraan keluarga tersebut.
Pengusiran setan pun dilakukan dan keliatannya berhasil, namun sesuatu yg lain pun terjadi... Pendeta Marcus menjadi bingung dan terjebak dalam situasi di luar apa yg dijalaninya selama ini...

Okeii, lupakan saja kalau film berdurasi 80 menit ini bergaya dokumenter (yup, this is the third 80 minutes movie i watch this year in cinema!!), at least gambarnya tidak separuh hitam-putih seperti black witch project ataupun memusingkan seperti Quarantine [REC] dan Cloverfileld. Ada beberapa shocking scenes meskipun tidak se-shocking ending paranormal activity, but hey.... it's not like the other scary-movie with stupid act of its characters. It turns quite smart with twisted plot. Akting para aktor-aktrisnya di atas rata-rata. Justru yg gua "kurang suka" adalah ending-nya yg menimbulkan pertanyaan.. jadi sebetulnya itu setan atau bukan?? Dan penonton akan bergumam, segitu doank nih?? Sebuah pertanyaan yg muncul kerap kali muncul seusai kita menonton film horor. Sebagian orang bisa berpendapat kalau film horor itu tidak perlu ada penjelasan yg masuk akal, yg penting penonton mendapatkan feel dari horor-nya. Well, if you do believe in GOD, then you have to believe in demons.... and the rest of it couldn't be explained by human logic.

You could watch this one, if you have any spare time......

6.5 out of 10 stars

30 September 2010

Para burung hantu ga hoole...

@Epicentrum XXI, studio 2, Sept 29th 2010, 1455 hrs

Hmm... gua ga bisa komen banyak tentang film yg satu ini. Ngomongin soal film anak (karena beratifikasi PG alias semua umur), film ini hampir kaga ada lucu-lucunya. It's kinda serious.
Dikisahkan Soren seekor burung hantu muda yg pemimpi, (dialognya disulihsuarakan oleh Jim Sturgess yg terdengar terlalu tua untuk seekor burung muda) dan selalu ingin bertemu dengan penjaga burung hantu dari pohon Ga'hoole karena dipengaruhi oleh cerita sang Ayah. Suatu ketika, Soren dan Klud saudara laki-lakinya diculik oleh burung hantu tua dan besar untuk dijadikan tentara dan budak dari burung hantu yg disebut sebagai "The Pure One" di St. Aggie. Soren berhasil meloloskan diri bersama dengan seekor burung hantu kecil sementara Klud memilih untuk tinggal di sana dan menjadi tentara "The Pure One".
Singkat cerita, Soren pun bertemu dengan 2 ekor burung hantu yg lain, bersama-sama mereka mencari pohon Ga'hoole untuk bertemu dengan "para penjaga" kedamaian kerajaan burung hantu. Tujuan mereka adalah untuk menghalangi ambisi "The Pure One" yg ingin menguasai kerajaan burung hantu. Terjadilah perang antara burung hantu yg beraksi bagaikan Gladiator. Adegan ini cukup seru karena seinget gua belum pernah ada adegan sejenis.

Dari segi cerita film ini tergolong biasa aja (dibandingkan dengan animasi keluaran Walt Disney) meskipun tidak membosankan. Zack Snyder sebagai sutradara bermain sangat aman untuk film anak-anak berdurasi 90 menit ini. Tindakan heroik Soren dan tingkah laku para burung hantu tidak dapat meraih simpati penonton secara maksimal, belum lagi nuansanya terlalu gelap untuk penonton anak-anak.
Poin plus film ini adalah gambar efek animasi 3D yg di atas rata-rata (apalagi kalau ditonton dalam versi 3D), scoring-nya juga oke... Well, menonton film ini seperti Harry Potter versi burung hantu : quite dark, a 'lil bit adventurous, less emotional and not deep enough...

Jangan lupa untuk masuk lebih awal karena ada cuplikan animasi Road Runner selama 5 menit berjudul "Fur of Flying" sebelum film ini diputar...

6.5 out of 10 stars

Resident Evil (3D) : when zombie movie meets predator with lots of matrix slo-mo scenes...

@Epicentrum XXI, studio 1, Sept 29th 2010, 1300 hrs

Finally, i watched movies here, which was advertised has the largest screen in jakarta.. Is it ?? hmmm, it has the greatest capacity among other XXIs (more than 500 seats in studio 1), but definitely not the largest screen... the same size like other XXIs have in their studio 1 or 2, not to mention it's still smaller than blitz CP audi 2 anyway..

Balik ke laptop-nya resident evil..... Well, 15 menit pertama cukup catchy, Alice (Milla Jovovich) bersama kloning-nya menyerbu markas Umbrella yg terletak di bawah tanah Sibuya junction Tokyo. Adegan action dengan serpihan kaca, pecahan tembok, tembakan peluru yg berterbangan dan adegan slow motion ala matrix di-ekspose habis-habisan disini, buat nunjukkin ini lhoooooo kita make teknologi 3D yg sebenarnya, bukan bo'ongan kayak clash of the titan ataupun last airbender, d*mnnn!! Bummmmm.... ended with explosion... tapi Alice keburu di-netralisir oleh suntikan Wesker, pemimpin Umbrella (Shawn Roberts), yg menyebabkan dia kehilangan kekuatan "super"-nya yg disebabkan oleh virus T yg telah bercokol di dalam tubuh Alice.
Selanjutnya Alice terbang ke Alaska, sounds familiar hehh... The Fourth Kind (starred also by Milla) was set here. Di sana dia menemukan Claire (Ali Larter, yg muncul di seri ke-3 RE) yg compang-camping dan kumel, ingin membunuhnya. Di dada Claire tertempel alat berbentuk laba-laba kayak lambang spiderman gitu, yg membuatnya hilang ingatan. Well, singkat kata Alice berhasil "menaklukkan" Claire (padahal dia udah kehilangan kekuatan virus T, aneh...) dan terbanglah mereka dengan kapal terbang kecil milik Alice yg entah bisa menampung berapa liter bensin, bayangin dari Alaska ke Los Angeles!!! Uppss bentar, Claire yg tadi compang-camping dengan muka dekil, berubah jadi kinclong waktu terbang bersama Alice... mungkin si Alice yg baik hati ini telah memandikan dan mencuci baju Claire dengan Rinso anti noda sehingga bersih dalam sekejap!!
Mendaratlah mereka berdua di atas gedung bekas penjara di tengah kota L.A., dan ketemu dengan 7 orang yg masih hidup dan tidak terinfeksi, salah satu di antaranya Chris (Wentworth Miller), kakak Claire. Rupanya dia dipenjara ala prison break oleh Luther (Boris Kodjoe) sang model jam tangan Tag heuer, dkk yg mengangapnya berbahaya. Selama 40menit, bagian ini terasa membosankan dengan dialog-dialog kaku. Singkat kata, akhirnya mereka harus "berperang" dengan seekor(atau seorang) zombie raksasa yg ga jelas dari mana datangnya dan berhasil meruntuhkan gerbang utama penjara. Bukan cuman itu, beberapa ekor zombie yg mempunyai mulut tentakel ala predator yg berhasil "menggali" langit-langit lorong penjara (entah bagaimana mereka bisa loncat dan menggali langit-langit yg cukup tinggi itu??). Pokoke terjadi tembak-tembakan dan bunuh-bunuhan lagi, akhirnya.... tentunya dengan adegan slo-mo yg buuuanyakkkk (kalau memang tidak mau disebut lebai) untuk mempertegas ini adalah film 3D!!! Mereka semua harus mencapai kapal Arcadia di pesisir pantai yg dianggap sebagai tempat teraman dan belum terkontaminasi. Tentunya tokoh-tokoh yg kaga bisa berantem mati bakal mati semua, tidak perlu disebutkan siapa, penonton bakal bisa nebak koq...

Akhirnya film berdurasi 95 menit pun ditutup dengan ending yg menimbulkan pertanyaan : Alice dkk mati ga ya..? mati ga ya..?mati ga yaaaa.....? kita tunggu saja Resident Evil 5 : Alice never dies...

6 out of 10 stars

14 September 2010

The lost ninth legion : Centurion

@Gandaria XXI, studio 1, Sep 13th 2010, 1900 hrs

Centurion, istilah untuk pemimpin 100 prajurit romawi. Centurion Quintus Dias (Michael Fassbender) adalah seorang prajurit barisan depan di perbatasan utara kerajaan romawi di Britania Utara. Suatu malam, benteng pertahanan mereka diserang bangsa Pict (Skotlandia) dan dia pun disandera. Namun Dias berhasil lolos dan bergabung dengan Legiun Romawi ke-9 yg dipimpin Jendral Titus Flavius Virilus (Dominic West) untuk mengalahkan bangsa Pict yg dipimpin oleh Gorlacon (Ulrich Thompson). Namun sialnya pasukan Romawi itu dijebak oleh kawanan bangsa Pict dan hampir semuanya meninggal. Dias bersama beberapa tentara lain yg masih hidup harus bertahan hidup dari kejaran algojo wanita bisu bangsa Pict bernama Etain (Olga Kurylenko).

Sedikit cerita mengenai legiun ke-9 tentara Romawi, legiun ini adalah salah satu yg tertua dan paling ditakuti, dibentuk pada tahun 65 S.M. Namun pada tahun 117 (sesudah masehi), keberadaan legiun ini menghilang begitu saja. Mitos bercampur sejarah mengatakan kalau legiun ini di"habisi" oleh bangsa Pict ketika akan menginvasi Britania Utara. Di akhir film ini dikisahkan kalau Gubernur Agricola (Paul Freeman), memerintahkan kepada bawahannya agar keberadaan legiun ke-9 yg telah gagal menaklukkan Britania Utara dihilangkan dari sejarah.

Tahun depan akan rilis film The Eagle of the Ninth yg dibintangi oleh Channing Tatum dan Mark Strong, bisa dibilang Eagle adalah kelanjutan film Centurion (meskipun secara ofisial bukan), di mana Tatum berperan sebagai putra jendral pemimpin legiun ke-9 yg telah hilang tersebut.

Film yang disutradarai Neil Marshall (Doomsday, Descent, Dog Soldiers) ini didominasi adegan berlari dan kejar-kejaran di hutan dan gunung bersalju dataran tinggi eropa utara yg dihuni rusa dan serigala, sinematografi mempunyai porsi penting untuk yang satu ini. Film berdurasi 95 menit ini diproduksi oleh UK film council dan didanai oleh National Lottery (kapan perfilman kita didanai oleh perusahaan lotere kayak gini??). Biaya produksinya yg dipakai pun tergolong sangat murah. Jadi meskipun berlatar belakang perang romawi, jangan harap film ini akan sekolosal Gladiator ataupun seheboh TROY, mengingat jumlah karakter utamanya tidak terlalu banyak. Durasi adegan legiun ke-9 yg terjebak oleh kepungan bangsa Pict terasa kurang panjang, akibatnya tidak terlalu meninggalkan kesan mendalam, sisanya adalah man-to-man fighting scene. Beberapa adegan memang cukup sadis namun kurang detail (baca : terlalu cepat).
Menonton film ini rasanya kita malah bersimpati kepada bangsa Pict yg diposisikan sebagai bangsa yg berusaha ditaklukkan oleh Romawi sehingga mereka pun melakukan perang gerilya (sounds familiar heh...), coba kalo film ini produksi Hollywood.. bisa beda critanya. Dan hebatnya dengan jumlah yg sedikit itu mereka (Pict) bisa menaklukkan tentara Romawi (yeah.. lpeas dari keakuratan cerita, at least seperti itu yg diceritakan dalam film ini). Bagian awal film ini mungkin agak kabur, tapi berangsur pulih sehingga penonton pun bisa mengikuti ceritanya dengan baik.
Akting para aktor-aktrisnya cukup bagus, dan Olga Kuri-keriting terlihat pas sebagai algojo wanita berdarah dingin yg bisu, she doesn't need any dialogues indeed... Dan Imogen Poots berhasil menjadi scene-stealer sebagai love-interest Dias.

Well guys, if you like war/epic movie (plus history), this one shouldn't be missed. But if you don't, just pass it.

6.5 out of 10 stars...

Boys will be boys, never grow up...

@Gandaria XXI, studio 5, Sep 13th 2010, 1705 hrs

5 orang sahabat yg berkumpul karena meninggalnya pelatih basket mereka semasa duduk di bangku SD. Lenny (Adam Sandler), seorang makelar artis Hollywood yg sukses beristrikan Roxanne (Salma Hayek) dan dikaruniai oleh 3 anak yg manja sekaligus menyebalkan. Eric (Kevin James), pria bertubuh tambun beristrikan Sally (Maria Bello) dan 2 anak yg sedikit aneh. Kurt (Chris Rock), pria berkulit hitam penggangguran yg beristrikan Deanne, wanita berkulit putih campuran dan mempunyai 2 orang anak yg lebih "normal" dibandingkan anak-anak Lenny dan Eric. Marcus (David Spade) masih lajang dan mata keranjang. Rob (Rob Schneider) yg sudah gagal beberapa kali dalam pernikahannya, beristrikan Gloria (Joyce Van Patten) yg lebih cocok jadi ibunya sendiri. Mereka berlima beserta keluarganya menginap di rumah danau yg disewa Lenny untuk mengisi liburan hari kemerdekaan sekaligus mengenang masa kecil mereka..

Harus gua akui film ini memang menghibur, setidaknya dibandingkan dengan semua film musim panas yg telah beredar sebelumnya, yang dipenuhi adegan action bombastis dan visual efek super mahal yg sebetulnya kaga jauh beda antara satu dengan yg lain, belum lagi tema yg kurang membumi dan menjual mimpi. But hey, this movie is not that cheap anyway, it costs 80million bucks in production!
Buat sebagian besar penonton (apalagi penonton wanita) mungkin akan merasa jokes-jokes yg dilontarkan lewat dialog lima sekawan di atas terdengar kasar, kurang ajar, dan kadang vulgar. Tapi yg jelas, film ini gue banget! Kebersamaan yg ditampilkan oleh 5 aktor utama mempunyai chemistry yg bagus, melihat mereka saling cela dan mengejek satu sama lain seperti potret diri gua ketika bersama teman-teman. What is spoken in this movie just happens in my real life. Starting knew each other at school, growing up, till some of them get married and having children, and few is still single, yeah... like me. But they are still boys inside, and sometimes stupid...

Film berdurasi 100 menit ini memang tergolong ringan, bukan cuman persahabatan saja yg digambarkan di sini, ada perbedaan, kebohongan, gengsi, kekalahan, kemenangan dan juga norma keluarga.
I couldn't give more comments, to all of guys out there, i think you should watch this movie with your buddies... only with them, and you will laugh out loud, hmmm... maybe laughing at yourself.

Saskatoon!!
7 out of 10 stars...

Avatar Special Edition in 3D

@Blitzmegaplex Central Park, Audi 1, Sep 13th 2010, 1245 hrs

08 September 2010

Mesrine : Insting pembunuh (bagian pertama)

@Puri XXI, studio 5, Sep 7th 2010, 1915 hrs

Gua suka banget ama film model kayak gini, orang jahat yg suka ngerampok bank... Bercerita tentang hidup Mesrine (diperankan oleh Vincent Cassel), biografi seorang penjahat legendaris Prancis yg beraksi di tahun 1960-an sampe 1970-an. Sebelas dua belas dengan Public Enemies-nya versi Johnny Depp, namun versi Prancis ini jauh lebih "dinamis" dan tidak membosankan. Tapi kalo soal flamboyan, masih menang Depp dibanding Cassel.
Film dibuka ketika Mesrine dan wanita "partner-in-crime"-nya dicegat oleh sekelompok orang ketika berkendara. Dan alur pun mundur ke tahun 1959, ketika Mesrine bergabung dengan tentara Prancis dalam perang Algeria, di mana dia membunuh sanderanya tanpa berkedip... Sepertinya adegan ini ingin menunjukkan kalau Mesrine emang mempunyai insting seorang pembunuh, penjahat, penculik, perampok, atau apalah namanya itu... But somehow, gua merasa ini kurang kuat, karena dalam biografi asli Mesrine sebetulnya perangai "jahat" itu sudah tampak waktu masih kecil dan tidak ditampilkan di sini.

Agak kaget waktu mendengar dialog di awal film yg kaga sinkron dengan gerak-gerik mulut para aktor, ternyata film ini di-dubbing ke dalam bahasa Inggris (kenapa jaringan 21 tidak mengimpor versi bahasa Prancisnya aja yaa...??).

Dengan durasi 105 menit (dari 110 menit yg sudah disensor), gua merasa film ini agak cepat menggambarkan kehidupan Mesrine, meskipun termasuk lengkap mulai dari hubungan dengan orang tuanya dan romantika. Setelah dia keluar dari ketentaraan Prancis, menjadi anak buah gangster Guido (Gerard Depardieu), kemudian menikah dengan Sofia (Elena), "insyaf" dan bekerja sebagai karyawan, tapi balik jadi penjahat lagi karena di-PHK, dan tiba-tiba masuk penjara lagi karena tertangkap waktu merampok bank. Sayang, adegan merampok bank ini tidak ditampilkan dalam film ini. Bahkan seinget gua di film ini hanya ada satu adegan merampok bank, padahal dalam satu dialog, Mesrine mengatakan kalau pekerjaan adalah ngerampok.

Sampai akhirnya Mesrine bertemu dengan wanita "partner-in-crime"-nya Jeanne (Cecile de France), setelah berhasil melarikan diri dari penjara, dan ga jelas Sofia udah ke mana. Mereka ngerampok kasino milik gangster lain ala Bonnie and Clyde, dan harus "mengungsi" ke Kanada karena dikejar-kejar sesama penjahat. (lagi-lagi) dalam biografi asli, mereka sempat merampok toko perhiasan dan bahkan Mesrine sempat membuka sebuah restoran. Huhh... sang penulis rupanya banyak membuang bagian yg seharusnya bisa membuat film ini lebih seru lagi.
Selanjutnya di Kanada, Mesrine dan Jeanne pun melanjutkan aksi "insting penjahat" mereka.....

Dalam biografinya ditulis pula, kalau Mesrine dijuluki manusia dengan 100 wajah, mungkin ahli menyamar maksudnya, tapi aneh dalam filmnya tidak ada penekanan di bagian itu.
Mengejar durasi adalah alasan yang paling tepat, mengingat filmnya dibelah menjadi dua bagian sehingga alurnya dibuat lebih cepat. Bagian terpenting dalam film ini adalah ketika Mesrine masuk penjara dan disiksa, akhirnya meloloskan diri, dan kembali lagi ke penjara untuk membebaskan para napi yg lain. This is the best part of this movie! Adegan "pembebasan" yg diiringi dengan tembak-tembakan dengan para sipir penjara justru digambarkan paling detil daripada cerita kehidupan Mesrine sendiri. Adegan tersebut ditampilkan dalam gaya yang wajar ibarat makan black forrest yang lembut kuenya dan pas banget rasa coklatnya, jiahhh....

Sudah jelas film ini tidak akan "seheboh" film-film aksi Hollywood, meskipun sang sutradara, Jean-Fran├žois Richet pernah menyutradarai film Assault on Precinct 13 yg dibintangi Ethan Hawke dan Laurence Fishburne, sebuah film bertemakan polisi dan penjahat juga. Tapi seperti yg gua udah tulis di atas, film ini termasuk dinamis. Adegan tembak-menembak hanya dor, dor, dor.... klasik, agak sadis, dan intens (lepas dari setting-nya yang jadul) , tidak seperti film Hollywood yang bombastis, trettt, treeettt,,, dorrr, derrr dorrrr, ka-boommm. Bahkan Cassel dan Richet juga dianugrahi best actor dan best director dalam Cesar Awards, Oscar-nya Prancis di tahun 2008. Penampilan Depardieu sendiri kurang berkesan, (lagi-lagi) mungkin karena kejar durasi.
Gua tidak sabar menunggu bagian keduanya untuk melihat sepak terjang Mesrine dan Jeanne, semoga aja diputar di sini. Sebetulnya bagian pertama ini mempunyai sub-judul, Killer Instinct, tapi entah kenapa malah diberi judul Public Enemy #1 , yg nota bene adalah sub-judul dari bagian keduanya.
Dan satu lagi... bisa jadi ini bukan filmnya semua orang, mengingat bertemakan gangster dan ber-setting jadul.

"Nobody kills me, until i say so!"
7 out of 10 stars

06 September 2010

Ada duri di dalam daging....

@Blok M Square 21, Studio 2, Sep 5th 2010, 1350 hrs

Dennis adalah seorang buronan yg melarikan diri bersama kekasihnya, Lacey, namun di tengah jalan mobil mereka rusak. Di jalan yg sepi tersebut mereka berpapasan dengan mobil yg dikendarai oleh Polly dan Seth, dan membajaknya. Mimpi buruk pun dimulai ketika Polly dan Seth yg menjadi sandera Dennis harus mengisi bahan bakar di sebuah pom bensin, di mana sang pengelola pom bensin telah berubah menjadi mayat hidup berduri yg siap mencari inang baru. Lacey yg labil pun menjadi korban pertama, selanjutnya Dennis, Polly dan Seth harus bertahan di dalam toko pom bensin dari serangan makhluk parasit yang dapat menginfeksi manusia hanya dengan tusukan durinya.

Tidak hanya dari segi durasinya yg minim, hanya berkisar 75 menit saja (yep, for real, it's shorter than animated movie), film ini pun minim karakter. Seth sebagai laki-laki yg tidak bisa apa-apa namun berani mengambil keputusan yg ekstrim, Polly adalah tipe wanita "in-charge" atas prianya, Dennis sebagai penjahat yg "likeable" dan Lacey sebagai kekasihnya yg labil dan sangat dependent. Pada awalnya, gua ga suka dengan karakter Seth yang agak bego dan penakut sebagai cowok Polly, tapi makin ke belakang karakternya konsisten dan makin jelas, tidak terjebak dalam stereotype karakter seperti pada film thriller umumnya. Ditambah akting 4 artis utamanya juga bagus dan tidak neko-neko.
Sayang, pengambilan gambarnya agak "shaky" pada saat mengarah ke makhluk parasit. Terlalu cepat sehingga penonton tidak dapat menangkap jelas seperti apa rupa sang makhluk dan apa yg terjadi. Bisa jadi ini untuk menutupi kekurangan visual efek dan make-up yg ditampilkan, mengingat film ini sangat low-budget. Meskipun beberapa adegannya dapat membuat penonton meringis, tapi intensitas ceritanya masih belum dapat memompa adrenalin gua lebih kencang lagi, mungkin karena sound effect-nya yg juga minim. Buat kamu-kamu yg suka dengan film thriller dan makhluk-makhluk parasit, bolehlah ditonton, tapi ga perlu di bioskop yg mahal... mengingat durasinya yg amat sangat pendek itu.... atau mungkin melalui DVD aja??

6.5 out of 10 stars

Mari menari di jalanan...

@Puri XXI, Studio 3, Sep 1st 2010, 1915 hrs

Meskipun ada logo 3D tercetak di posternya, tapi yg beredar di bioskop Jakarta adalah versi reguler. Jelas banget, film yg diproduksi oleh UK Film Council ini meniru abis film Hollywood, Step Up yg sudah mencapai 3 jilid. Carly (Nichola Burley) yg putus asa karena Jay (Ukweli Roach) sang pacar sekaligus "leader" dari kelompok tari mereka "The Crew", tiba-tiba pergi tanpa alasan yg jelas. Kelompok "The Crew" yg mencari uang dengan tampil di jalan dan sering berhadapan dengan kamtibmas (polisi jalanan) kesulitan mendapatkan tempat latihan, sekaligus kekurangan uang, padahal kompetisi Streetdance sudah di hadapan mata dalam hitungan minggu, belum lagi mereka harus berhadapan dengan kelompok "The Surge" yg merupakan saingan terberat.

Suatu ketika Carly yg bekerja paruh waktu sebagai tukang nganter sandwich, secara tidak sengaja mengantar pesanan ke gedung Royal Dance School (akademi balet), di sanalah dia bertemu dengan sang kepala sekolah, Helena (Charlotte Rampling) yg mengijinkan "The Crew" untuk latihan gratis di sana, dengan syarat melibatkan beberapa muridnya untuk terlibat langsung dalam kompetisi tari jalanan...

Well, film ini mencoba berinovasi dalam menggabungkan gaya balet dan tari jalanan, dan hasilnya dapat dilihat di bagian akhir cerita. Meskipun buat gua berasa aneh dan kurang enerjik, dibandingkan streetdance murni. Dari segi alur cerita dan akting, ga usah dipikirin dah.... Tanpa mengikuti alurnya sembari merem melek, penonton juga bakal tau cerita ini bakal mengalir ke mana. Terasa banget film ini berusaha memperpanjang durasinya sekitar 95 menit, dengan lagu-lagu yg mengiringi adegan bisu aktor-aktrisnya yg sedang patah hati, melamun, atau apapun itu. Sesuai dengan judulnya, film ini memang menjual streetdance dengan dinamika yg oke banget... Jadi keinget Brandon di acara IMB, tapi tentu saja film ini jauh lebih bagus...

Overall, gua kasi 6 bintang dari 10.

Rajanya tukang berantem (is really suck..)

@Karawaci XXI, Studio 1, Aug 30th 2010, 1900 hrs

Terus terang gua belum mendapatkan gambar poster film ini, terakhir dari internet malah muncul poster bertuliskan KoF doank, asli jelek banget, sejelek filmnya.
Film ini adalah film kesekian yg mengadaptasi permainan video-game ke layar lebar dan (lagi-lagi) gagal. Dengan durasi hampir 90 menit dan disutradarai Gordon Chan (Painted Skin, The Medallion), naskah film ini ditulis oleh sepasang penulis dari Hollywood yg ga penting juga disebutin namanya, betul-betul memiliki cerita yg lemah dan dialog yg cemen, ga kalah cemen dari Tekken.

Wait.... kalo mau gua bandingin, film ini terlihat lebih "low budget" dari Tekken yg ber-setting lebih modern di masa depan. Plot utamanya sih ga jauh beda, sang tokoh utama Kyo Kusanagi juga diperankan aktor bule, Sean Farris (Never Back Down) menuntut balas dendam dan tidak menyadari ada suatu potensi yg "luar biasa" dalam dirinya. Di awal cerita, terlihat kalau dia ga bisa berantem alias cupu, tapi tiba-tiba di akhir cerita, boengggg... ngeluarin jurus apa gitu dengan pedangnya sehingga sang penjahat, Rugal (Ray Park) pun kalah.

Pemilihan Maggie Q. sebagai Mai dalam film ini tidak berhasil menjadi sebuah daya tarik . Mai adalah agen CIA yg menyamar sebagai petarung King of Fighters yg diciptakan oleh Chizuru (Francoise Yip), di mana setiap petarung cukup menggunakan alat kecil seperti bluetooth di bagian telinga dan langsung menuju arena pertarungan di dunia paralel, ini aja udah ga masuk akal, ya udahlah.. kita terima aja tanpa harus ada logika karena ini diangkat dari video game. Atasan Mai, Terry Bogard (diperankan David Leitch) yg tiba-tiba beralih haluan menjelang akhir cerita, dari CIA secara ajaib menjadi petarung juga, definitely sesuai dengan judulnya, everyone is a fighter!! Yg justru menarik sedikit menarik adalah dua petarung wanita lesbian, Vice dan Ma ture yg sebetulnya ga bisa berantem karena cepet kalah waktu bertarung dengan Rugal.
Selanjutnya, gua merasa ga perlu nulis panjang lebar satu persatu tokohnya dan apa yg mereka lakukan di film ini karena film ini ga punya greget dan bikin ngantuk. Adegan pertarungannya terlihat bo'ong-bo'ongan, nonjok dan nendang tapi terlihat kaga kena, koreografer bela dirinya siapa toh?? Plus setting-nya yang engga banget, di lorong-lorong becek nan gelap, dengan drum-drum dan tong sampah di bagian pinggir (yah.. mungkin emang begitu di game kali yak?? 'coz i'm not a fanboy here...).
Kesimpulannya... film ini "sedikit" lebih buruk dari Tekken.

5 out of 10 stars...

Vampires (not that) suck...

@Puri XXI, studio 7, Aug 24th 2010, 1935 hrs

Sebetulnya gua mau kasi jempol buat Jason Friedberg dan Aaron Seltzer atas kreativitas mereka yg semakin ancur dalam membuat film-film parodi. Ibarat mereka adalah duo nayato dan koya pagayo versi Hollywood. Tapi tunggu, Vampires Suck masih lebih baik dari film mereka terakhir yg betul-betul adalah sebuah "disaster", yakni Disaster Movie. Setidaknya film ini tidak sebanyak Disaster Movie yg menampilkan semua karakter film musim panas 2008 yg bisa muncul kapan saja dan di mana saja. Seinget gua cuman ada Alice, Lady Gaga, Buffy, trus... lupa dah, ga terlalu mengganggu juga sih...

Dari posternya, udah jelas kalo film ini "memakai" Twilight sebagai core ceritanya, bahkan seri 1 dan 2-nya digabungkan menjadi satu film berdurasi 80 menit saja dengan nama-nama karakter yg diplesetkan, hebat banget kan... Soal akting emang ga perlu dibahas lagi, aktor-aktris yg dipakai tentu saja belum terkenal, meskipun aktor utamanya Edward Sullen yg diperankan oleh Matt Lanter sudah pernah muncul dalam Disaster Movie dan Sorority Row.
Tips menonton film ini mudah, pertama-tama tentunya sudah pernah menonton film aslinya (Twilight) dan kedua, kosongkan pikiran dan tertawalah kalo menurut kalian emang adegannya lucu. Kalo ga lucu, tinggal bilang WTF??! gampang toh....?

Gua bingung mau ngasih bintang berapa yah... yg jelas ketika akan menonton film ini gua sudah punya "premonition" apa yg akan disajikan di layar, well... it turns out not too bad anyway....
Entah apa lagi film yg akan diparodikan oleh duo ini nantinya...

Who is SALT?

@Blitzmegaplex Central Park, Audi 7, Aug 22nd 2010, 1200 hrs

Unexpectable Sly Stallone and friends....

@Studio XXI, studio 1, Aug18th 2010, 1510 hrs

Going to SHANGHAI..

@Studio XXI, studio 4, Aug 18th 2010, 1315 hrs

The Last Airbender in 3D

@Blitzmegaplex Central PArk Audi 1, Aug 16th 2010, 1900hrs

23 Juli 2010

Insepsi dunia mimpi Nolan ke dalam pikiran penonton

@Plaza Senayan XXI, studio 4, July 21st 2010, 1730 hrs

Ketika Nic Cage bergaya penyihir...

@Plaza Senayan XXI, studio 2, July 21st 2010, 1440 hrs

Despicable me... (2D)

@Platinum XXI, studio 2, July 21st 2010, 1230 hrs

10 Juli 2010

Just de-activate your F.B. account....

@Planet Hollywood 21, Studio 2, July 10th 2010, 1030 hrs

Ketika pertama kali mendengar judul film mungkin penonton akan mengira adalah sebuah film hollywood bergenre thriller. Ternyata kaga, sang sutradara Awi Suryadi mengatakan pada awalnya film ini dirancang untuk menjadi sesuatu yg serius, namun ditambahkan pula bumbu komedi, jadilah sebuah film drama-komedi. Wait.... lupakan semua film komedi seks lokal yg banyak beredar belakangan ini di bioskop-bioskop pinggiran dekat tempat tinggal anda.

Luna (Fanny Fabriana) dan Reno (Edo Borne) sudah pacaran selama 3 tahun. Makin lama, Luna tidak tahan dengan pembawaan Reno yg norak dan "terlalu" ekspresif. Akhirnya dia curhat-curhatan dengan temen SMPnya yg "wild", Via (Kimmy Jayanti) tentang Reno. Sebaliknya Via juga curhat tentang pacarnya Hedi (Fikri Ramdhan) yg sangat konservatif dalam hal berpacaran.
Mereka berdua sepakat untuk "bertukar" pasangan mulai dari me-remove pacar dan mereka sendiri dari friend-list masing-masing, alias pura-pura tidak saling kenal.
Dimulailah perkenalan Luna dan Hedi, Reno dengan Via. Namun kenyataan berkata lain ketika salah satu dari mereka melewati batas perjanjian awal yakni "semua hanya terjadi di dunia maya".

Semuanya gila facebook, tidak hanya 4 tokoh utama kita yg berkutat dengan jaringan sosial dunia maya yg paling happening saat ini. Tapi juga ada Doni (Agastya Kandao), kakak Reno yg gay dan mempunyai account samaran bernama Mr. Banana untuk mencari jodoh.
Kemudian Marlene (Imelda Therinne), kakak Luna yg sering kesepian karena ditinggal suaminya yg sibuk Aryo (Restu Sinaga). Tak pelak lagi, Luna memperkenalkan facebook kepadanya untuk mengusir kesepian, dan dia pun "kesengsem" dengan salah satu account bernama "Jodi".

Kita mulai dengan karakter masing-masing. Edo dan Kimmy berhasil membangun chemistry yg bagus, mungkin karena keduanya mempunyai karakter yg "norak". Sebagai pendatang baru, akting Kimmy terbilang bagus, and i think she is really enjoying cursing?? Sedikit banyak mengingatkan gua pada Fahrani di film Radit dan Jani. Somehow, penonton kurang bisa merasakan ke-bitchy-an karakter Via sampai membencinya, cewek urakan, tapi kurang jahat gimana gitu. Sedangkan Edo dan Fanny memang kurang klop, mungkin karena itulah lebih baik mereka putus kali yee.... Akting mereka berdua kaga jelek juga.. Mungkin akting paling maksa adalah Fikri yg sengaja di-culun-kan menjadi Hedi. Tokoh yg satu ini ga jelas di bagian akhir cerita, which is adalah kelemahan terbesar di film ini. Penonton akan bergumam, apa sehh........ ngapain seh si Hedi itu??

Agastya Kandao sebagai Doni, cuman dari karakter inilah penonton bisa dibuat tertawa, mungkin inilah komedi "tambahan" yg dimaksud oleh sang sutradara. Imelda dan Restu memerankan dua karakter yg tidak penting untuk dimunculkan di film ini. Dalam suatu scene, diperlihatkan Wulan Guritno yg diwawancarai wartawan dalam acara infotainment karena munculnya account facebook palsu Wulan. Bisa saja adegan itu diwujudkan dalam sebuah karakter baru dalam film untuk menggantikan Marlene dan Aryo. Lumayan buat memperpanjang durasinya yg cuman 90 menit saja.

Adegan "pertarungan" Luna dan Via cukup menarik, meski gua berharap film ini diakhiri dengan sebuah ending yg tragis atau lebih dramatis sehingga pesan moralnya lebih nendang lagi. Awi Suryadi yg juga ikutan menulis skenario masih memegang teguh prinsip : everyone is happy. Akibatnya film yg sudah mencoba mengambil tema berbeda ini kurang kuat dalam hal bercerita. Ibarat kue lapis kurang legit gimana getohh.... Gua lebih melihat this movie is supposed to be a wicked or dark-comedy movie. Well, kita memang tidak bisa berharap banyak dari sebuah film lokal untuk hal yang satu ini.

Happenning gadgets seperti blackberry, laptop-komputer Apple (yg mungkin menjadi sponsor film ini) banyak bermunculan, aneh juga melihat Fanny yg ga jelas kerjanya tapi menggunakan komputer Apple di kantor?? Gila, pengen banget tuh kerja di perusahaan kayak gitu. Belum lagi, minuman keras Carlsberg yg diteguk oleh Edo dan Kimmy. Kalimat chatting masa kini bergaya alay pun ikutan muncul dalam film ini.

Ada dua poin plus dari film ini. Yang pertama, Awi Suryadi cukup kreatif dalam menampilkan adegan "khayalan" dari tokoh Luna dan Doni dan pengambilan kamera ketika Luna dan Reno bertengkar. Kedua, penonton bisa menangkap pesan moralnya dengan baik untuk tidak "bermain api" di dunia maya yang bisa berlanjut ke dunia nyata.

Not suitable for kids under 15, contains mild violence, drinking, thematic materials, smoking scenes with some cursing words.

6 out of 10 stars

Catatan kecil : Peggy Melati Sukma menjadi associate producer dalam film ini, apa yah bedanya associate producer, producer doank, dan executive producer??

09 Juli 2010

Even toys have hearts...

@Blitzmegaplex CP, audi 10, 1745 hrs

Bisa dibilang film ini menjadi euforia tersendiri karena rilis 11 tahun setelah film pendahulunya. Gua juga ga menonton 2 film pertamanya di bioskop. Tapi dari "kabar-kabar" yg berhembus kalau 2 film pertamanya memang bagus, dan terbukti dari perolehan dollar di tangga box office amrik. Hebatnya lagi, seri terakhir ini (atau bakal ada lanjutannya yak??) mendulang dollar yg jauh lebihhhhh buanyak lagi, sukses berat!!

Film dibuka dengan short-animation berjudul day and night (eitss, bukan cruise dan diaz lho!), seperti biasa merupakan ciri khas film animasi Disney. Anyway, ga terlalu menarik buat gua.
Dan langsung aja masuk ke inti cerita di mana, para mainan koleksi Andy merasa cemas karena Andy luluus SMU dan akan kuliah. Itu berarti Andy sudah bertambah dewasa dan tak akan bermain-main dengan mereka lagi, dan parahnya ada kemungkinan mereka akan dibuang begitu saja. Ternyata Andy berkeinginan untuk menyimpan mereka di atas loteng dan memilih koboi Woody (Tom Hanks) untuk menemaninya kuliah. Kenyataan berkata lain, ketika ibu Andy mengira mainan itu akan dibuang oleh Andy. Akibatnya mereka pun berusaha menyelamatkan diri ketika akan diangkut oleh truk sampah. Buzz dan kawan-kawan yg mengira kalau mereka akan dibuang, akhirnya memilih untuk disumbangkan ke rumah penitipan anak-anak Sunnyday dengan menyelinap ke mobil ibu Andy. Woody yg setia kawan berusaha memperingatkan mereka, tapi kepalang tanggung mereka sudah tiba di sunnyday tanpa mengetahui akan ada masalah yang akan dihadapi di sana...

Sejauh ini film favorit gua dari Disney adalah Nemo dan Wall-e, dan menjadi andalan Disney kalau setiap karakternya yg ditampilkan bener-bener "manusiawi" sekali. Gua suka banget dengan tokoh Woody yg loyal dan setia kawan, agak sayang sih hanya Woody dan Buzz aja yg ditampilkan secara jelas karakternya. Yg lain cuman kebagian porsi haha hihi doank.
Karakter baru Ken dan Barbie menjadi warna tersendiri.
Persahabatan dan pengkhianatan mewarnai perjalanan para mainan di Sunnyday. Porsi komedi dan aksi disuguhkan dalam bagian yang pas dan tidak berlebihan. Adegan rencana kabur dari Sunnyday cukup mengesankan, apalagi ketika mereka masuk ke dalam mesin penghancur sampah, saling berpegangan tangan dan pasrah, what a moment.... Even toys have hearts.... haven't you?

7 out of 10 stars

What a boring predators! (SPOILER warning)

@Pluit Junction XXI, studio 4, 1525 hrs


8 orang yg tidak saling mengenal terdampar di sebuah planet asing, mereka adalah Royce (Adrian Brody), Isabelle (Alice Braga), Ed (Topher Grace), Stans (Walton Goggins), Nikolai (Oleg Taktarov), Cuchillo (Danny Trejo), Mombasa (Ali), dan Hanzo sang Yakuza (Louis Ozawa).
Ternyata mereka terjebak dalam sebuah permainan perburuan dan sedang diintai oleh beberapa predators. Satu per satu pun tewas sampai mereka bertemu dengan pria misterius Noland (Laurence Fishburne). dan mereka tetap harus meloloskan diri dari permainan itu.

Sori buat para fans predators, sang makhluk jelek...
Buat gua pribadi film ini terasa jelek. Bagaimana ke-8 orang tersebut bisa sampai disana dan mengapa mereka yg "dipilih", dan berimbas kepada pengenalan karakter yg kurang lengkap, terutama si yakuza itu yg hanya mendapatkan dialog 3 kalimat sepanjang film. Tadinya gua pikir ini akan menjadi twist sebagai jawabannya di ending film, ternyata tidak terjawab sampai di akhir cerita.
Paruh pertama film yg berdurasi 100 menit ini terasa boring, pantat dan kaki gua ampe pegel nungguin adegan action-nya. Adegan kucing-kucingan para tentara dengan predators kurang berhasil memompa adrenalin penonton. Kesadisan di film ini pun terasa tanggung seperti film berating PG-13 (13 tahun ke atas) saja.
Memang tidak bisa berharap banyak dari film yg diproduseri oleh Robert Rodriguez ini. Adegan aksinya kurang (tidak memorable), cuman dar der dor aja. Pertarungan samurai antara sang Yakuza dengan predator pun terasa hambar. Pemunculan karakter Noland yg misterius hanya lewat begitu saja, sekedar memperbanyak tokoh (dalam hal ini korban predator tentunya) dan memperpanjang durasi?? Adrien Brody cukup serius dalam mengambil perannya di film ini, terlihat dari persiapan fisiknya dan suaranya yg terdengar berat, mungkin dia ingin bersaing dengan Arnold.
Pertanyaan lain pun muncul ketika ada predator "lemah" yg diikat (menjadi sandera) oleh predator yg lebih kuat (diceritakan di sini ada dua jenis predator, kuat dan lemah). Entah bagaimana predator "lemah" itu bisa sampai di sana.
Twist di bagian akhirnya yg "membuat" salah satu tokohnya menjadi antagonis terasa dipaksakan, sepertinya penulis cerita sudah kebingungan mencari karakter antagonis selain para predator-nya sendiri.
Padahal gua suka ama film-film Rodriguez sebelumnya (kalau dia menjadi sutradara). My faves are: From dusk till dawn dan the faculty. They were so thrilled! Kemudian ada Once upon a time in mexico, Spy Kids trilogy, tahun depan ada yg ke-4 lho! dan Sin City. Planet Terror+grindhouse, sebetulnya adalah film kelas B, but gore enough and i like it!

Predators will be forgotten....

5.5 out of 10 stars

NB : nonton aja di bioskop murah yg harga tiketnya cuman 15rb/20rb. Kalo perlu di fx platinum aja, bisa buy 1 get 2 pulak, hehehehe...

Ketika percintaan segitiga antara manusia, vampir dan serigala semakin lebaiiii

@Emporium XXI, studio 1, 1215 hrs

Knight and Day, sebuah kolaborasi "standar" antara dua bintang papan atas Hollywood

@Blitzmegaplex CP, audi 2, 1415 hrs, July 3rd 2010

Roy Miller (Tom Cruise) dijebak oleh temannya sendiri sesama agen CIA, Fitzgerald (Peter Sarsgaard). Roy berusaha menyelamatkan batere mini berkekuatan besar hasil penemuan Simon Feck (Paul Dano) dari Fitzgerald yg ingin menjualnya ke mafia pengedar senjata, Antonio Quintana (Jordi Molla). Fitzgerald pun mengejar Roy sampai di bandara dalam penerbangan ke Boston. Di sana Roy "memanfaatkan" June Haven (Cameron Diaz) yg akan terbang ke Boston untuk menghadiri pesta pernikahan adiknya. Tak ayal lagi, June pun "terpaksa" terbang bersama Roy dalam penerbangan ke Boston yang sebetulnya adalah sebuah penerbangan yg telah direkayasa oleh Fitzgerald demi menangkap Roy. Mereka pun selamat dalam penerbangan tersebut, tentunya... dan petualang duo Roy-June ke berbagai belahan dunia pun dimulai ketika mereka diburu oleh Fitzgerald.

Well well well... menonton film ini diibaratkan makan kue coklat yg lelehannya kurang cair (karena kurang hanget mungkin) dan kita ga peduli ama kandungan di dalamnya, yang penting manis aja dahh.... (dan manis belum tentu enak lho).
Lupakan mengenai ide cerita dan karakter-karakter yang ada, mulai dari Peter Sarsgaard sampe Paul Dano yg sebetulnya menjadi inti cerita, semuanya terasa ga penting dan cuman tempelan, karena film ini adalah Tom Crui-sentris (dan tentunya Diaz). Bagaimana Roy bisa membawa-bawa June "berkeliling dunia" dalam keadaan pingsan? lupakan saja..... Kayaknya dia punya uang yg banyak, tentunya.... Kenapa sih Roy mati-matian mau melindungi June? ga penting..... kalo Roy cuman sendirian namanya jadi Bourne donk..... Trus, koq bisa-bisanya June menerima telepon di sebuah pulau yg kata Roy sangat terpencil?? oke deh....

Keliatan banget kalo Tom Cruise terobsesi dengan karakter Ethan Hunt yg "apa aja bisa" di filmnya sendiri Mission Impossible. Bisa dibilang film ini adalah pemanasan sebelum dia meluncurkan MI4 akhir tahun depan. Gua pikir penonton sekarang udah tambah pinter dan (mulai) bosen ama tokoh jagoan yg terus-terusan bisa lolos dan bisa ngelakuin apa pun dalam kondisi yg tidak memungkinkan sekalipun. Mungkin film ini lebih cocok diberi judul Mission Impossible : 3.5?? Akting Diaz di bagian awal film sangat annoying sekali, kerjanya cuman teriak-teriak doank kayak film di jaman 80-an dan 90-an ketika si cewek sedang diselamatkan oleh sang jagoan. C'mon this is a millenium-era, you've got to be a tough chick! Hehehehe.... pisss!

Adegan aksinya pun tidak lebih heboh dari Die Hard 4-nya Bruce Willis, atau The A-team yg baru saja beredar. Pendaratan darurat pesawat yg dilakukan Roy dan June di awal film sama sekali tidak menegangkan. Dari segi cerita tentu saja seperti kue coklat di atas. Bumbu komedinya masih acceptable lah... Kalau saja film ini dibuat 10 tahun lalu akan terasa lebih fresh dan bisa mengundang lebih banyak penonton. Pesona Diaz rasanya udah hampir hilang, aktris komedi yg pernah dipuja-puja lewat There's something about Mary ini harus bisa menerima kalau dia bukan america's sweetheart lagi. Begitu pula dengan Tom Cruise, entah apa yg terjadi pada aktor papan atas yg hampir berkepala lima ini, sepertinya dia tidak laku bermain dalam film bergenre drama serius dan terus berusaha untuk bermain di film aksi supaya tetep eksis....

Hmmm... kesimpulannya? Simpulkan aja sendiri...

6.5 out of 10 stars