08 Juni 2011

What is your favorite scary movie?

@Karawaci XXI, studio 1, Jun 7th 2011, 1815 hrs

Lost Bladesmen

@Pluit Junction XXI, studio 1, May 23th 2011, 1430 hrs

what would you if you knew you had less than a minute to live?

@Karawaci XXI, studio 1, May 19th 2011, 1830 hrs

15 Mei 2011

Sebuah cermin kehidupan di wakatobi yg nyaris tanpa konflik...

@Blok M Square 21, Studio 5, May 14th 2011, 1545 hrs

Dekade lalu ada iklan lawas sebuah rokok bermerk B, dengan slogan "i love the blue of indonesia"
Yes, that is the reason i watch this movie...blue is fave colour and beach is my fave destination...

Dibuka dengan adegan seorang anak perempuan yg tidak bisa tidur, lalu bangun dan mendayung sampan ke laut, film ini diberi judul the mirror never lies, dan diartikan subtitle menjadi LAUT BERCERMIN, nah lohh...??

Pakis adalah seorang anak perempuan dari Suku Bajo yg duduk di bangku SD, merindukan ayahnya yg hilang ketika mencari ikan di laut. Adalah sebuah cermin yg merupakan satu-satunya "peninggalan" sang ayah, dan Pakis selalu membawa cermin itu ke seorang dukun guna mencari keberadaan sang ayah.
Maklum, namanya juga wong ndeso.... masih percaya hal-hal tahayul.
Suku bajo adalah kelompok kecil dari masyarakat sulawesi tenggara yg hidupnya terpisah dari pulau utama dan bergantung pada hasil laut.
Para suami mencari ikan-ikan sampai beberapa waktu, dan kemudian pulang untuk dijual oleh para istri.
Mereka tinggal di pemukiman bambu-bambu yg dibangun di atas air, lengkap dengan listrik dan parabola untuk menangkap siaran tivi.
Bahkan anak-anak mereka harus mendayung sampan untuk mencapai sekolah yg dibangun di atas air yg masih jernih. Jangan dibandingkan dengan pemukiman nelayan di muara angke yg dibangun di atas air laut berwarna coklat bak comberan.
Kira-kira begitulah kehidupan suku bajo yg gua tangkap melalui film ini.

Secara keseluruhan , film ini berhasil sebagai alat propaganda untuk mengajak penonton lebih menghargai (sekaligus lebih mengenal) kehidupan hayati indonesia, terutama laut. Sekedar tambahan info dari wikipedia, kalau wakatobi merupakan bagian dari taman nasional wakatobi (nama wakatobi sendiri diambil dari pulau-pulau yg membentuknya yakni Wangiwangi, Kaledupa, Tomea, dan Binongko).

Namun bila dilihat dari value sebagai sebuah film, Mirror masih jauh dari harapan.
Ini ga bisa disangkal karena WWF memang menjadi eksekutif produser film ini bersama dengan pemda kabupaten Wakatobi, menitikberatkan tujuan di atas.

Film ini sepertinya membuang sia-sia akting Reza Rahardian yg berperan sebagai Tudo yg sudah dianugrahi 2 piala FFI. Asli, gua bosen ngeliat aktor yg satu ini, udah kayak Lukman Sardi yg kejar setoran.
Tudo adalah seorang peneliti lumba-lumba dari jakarta yg melakukan penelitiannya di sana dan menginap di rumah Tuyang, ibu pakis (diperankan Atiqah Hasiholan).
Lambat laun ada sedikit cinta yg tumbuh antara Tuyang yg memang kesepian karena ditinggal suami dengan Tudo yg sepertinya juga kesepian. Pakis juga ternyata menyimpan rasa suka pada Tudo, dikarenakan kerinduan atas figur seorang ayah.
Karakter Tudo tidak dielaborasi sama sekali, padahal dia menyimpan sebuah gaun putih berukuran kecil yg tidak dijelaskan latar belakangnya sampai film berakhir. Tidak hanya itu, cinta segitiga (kalau emang bisa disebut cinta) berakhir begitu saja nyaris tanpa konflik dengan alur yg sepi dan datar. "Kesepian" film ini hanya bisa dipecahkan ketika Tuyang memarahi Pakis karena terlalu berharap sang ayah bisa ditemukan lewat cermin peninggalan itu dan juga tingkah Lumo (teman Pakis) yg tengil.
Atiqah yg muncul bermaskeran hampir sepanjang film, membuat penonton bingung, apakah karena dia dikontrak oleh sabun bermerk tiga huruf itu, sehingga mukanya harus dimaskerin supaya tidak terbakar?
Ternyata dia emang seorang wanita yg setia terhadap suaminya, supaya tidak dilirik oleh pria lain sehingga mukanya harus dimasker sperti itu.
Penampilan Atiqah di film ini untuk berdialog dalam bahasa bajo serta menghitamkan kulitnya mengingatkan pada akting Alexandra Gottardo dalam film Tanah Air beta.

Untung aja, film ini masih mempunyai detak nadi yg dipacu oleh karakter Lumo (artinya lumba-lumba dalam bahasa indonesia) yg menyimpan rasa suka kepada Pakis.
Lumo yg gaya tertawanya lebai bin alai ini berhasil memancing tawa penonton lewat aktingnya yang natural, lebih baik dari akting pemeran Pakis. Lumo bersama satu temannya lagi yg hobi menyanyikan lagu melayu mengingatkan kita kepada karakter di Laskar Pelangi yg melantunkan lagu melayu (lupa nama karakternya).
Kenaturalan film ini juga ditampilkan lewat dialognya yg sebagian diucapkan dalam bahasa suku bajo , tentunya dengan subtitle bahasa indonesia.

Yang jelas, karena film ini merupakan proyek ambisius Nadine Chandrawinata yang memang hobi menyelam (duduk di bangku produser bersama dengan Garin Nugroho) ,
maka semua pemeran dalam film ini pun harus dituntut untuk bisa berenang sekaligus menyelam, termasuk Atiqah dan Reza. Semuanya berhasil direkam dengan cukup baik lewat sinematografi yg mengambil gambar bawah laut dan indahnya warna senja ketika sang surya terbenam.

Penantian gua untuk melihat lumba-lumba pun tercapai ketika mamalia yg satu ini muncul meski hanya semenit menjelang akhir film, at least ini menjelaskan Tudo memang seorang peneliti lumba-lumba. Sebetulnya gua berharap ada adegan para karakternya berenang bersama lumba-lumba, tapi sayang... bisa jadi WWF akan melarang hal tersebut.

Karena nyaris tanpa konflik, sampai di akhir cerita penonton sama sekali tidak mendapatkan apa-apa dari rangkaian cerita yg sudah terjalin, akibatnya secara keseluruhan film ini lebih cocok dimasukkan ke dalam salah satu episode discovery channel yang bercerita budaya dan hidup masyarakat wakatobi.

Well, film yg berdurasi 100 menit ini terasa panjang, ditutup dengan closing credit yg pendek, dan sepertinya tidak didukung oleh Kementrian budaya dan pariwisata.
Menjadi tanda tanya buat gua, apakah sang menbudpar sudah menonton film ini karena jelas-jelas wakatobi adalah sebuah komoditi yg mempunyai nilai jual tinggi, dibandingkan kebanggaannya ketika menghadiri premier film tante julia (makan, berdoa dan cinta), padahal Bali diekspos secara minimalis dalam film tersebut.

04 Mei 2011

01 Mei 2011

Warrior's Way, when ninjas meet cowboys

@Plaza Blok M 21, studio 5, Apr 28 2011, 1645 hrs

Akhirnya kesampaian juga nonton film ini, meski harus mengejar sampai ke Blok M. Terus terang bioskop yg satu ini sudah waktunya untuk direnovasi, terutama sub woofer-nya dengan suara yg bleber ke mana-mana. Lalu, apakah film ini worthed untuk ditonton? Hmm.... Sekilas memang film ini mirip Ninja Assassin, mungkin karena sama-sama dibintangi oleh aktor korea, dan banyak ninja-nya.

Di waktu dan tempat yg tidak disebutkan terdapatlah dua klan yg saling bermusuhan. Sang pendekar yg memenangkan pertarungan (Jang Dong Gun), diharuskan membunuh semua anggota klan musuh tanpa terkecuali seorang bayi, namun ia malah tidak membunuhnya, akibatnya ia pun dikejar-kejar oleh klannya sendiri di bawah perintah sang guru (Ti Lung). Sang pendekar tak bernama itu (kita sebut aja Gun-gun) melarikan diri ke daerah koboi di barat sambil membawa si bayi. Daerah koboi yang dihuni oleh sekelompok sirkus itu sendiri sedang mengalami tekanan seorang kolonel koboi hidung belang yg ga jelas dari mana (Danny Huston). Gun-gun bersahabat dengan semua para pemain sirkus, ada orang kerdil, ada cewek cantik (Kate Bosworth), ada pemabuk tua (Geoffrey Rush), dan lain-lain, yg gua kaga inget sama sekali nama karakter mereka, karena memang semua karakter di sini ga penting!

Udah bisa ditebak, kalau gun-gun yg pelit dialog ini (gua inget banget dialog pertamanya adalah "I do not know..") membela para pemain sirkus dari tekanan kolonel, plus ancaman sang guru yg mengejarnya sampai ke daerah koboi... Apakah gun-gun berhasil? Tentunya bisa ditebak, bahkan ga perlu dipikirin gun-gun berhasil atau tidak.

Well, dari awal, film ini memang udah terlihat ga beres, hampir setengah jam pertama, film ini disajikan hanya dengan prolog tanpa dialog.
Semua karakter di film ini betul-betul ga ada yg menarik simpati, penonton tidak perduli sama sekali mereka mati ataupun hidup.
Penampilan Kate Bosworth just a waste, apalagi Geoffrey Rush, i wonder why he is taking this role?? Dari pemabuk lalu tiba-tiba jadi jago menembak. Kemudian kelompok sirkus yg ga jelas kerjaannya ngapain, karena yg tinggal di sana hanyalah mereka, tanpa penonton! Belum lagi, bagaimana mereka bisa hidup di tempat yg kering dan berpasir seperti itu menjadi sebuah tanda tanya besar. Adegan pertarungan yg ditampilkan tidak seperti di film-film kungfu mandarin. Jangan berharap akan ada pertarungan panjang ala martial-arts Ip-Man. Sang pendekar tampak amat sangat mudah menghabisi semua lawannya dengan sekali tebasan pedang, hebat sekali bukan? Dengan maksud agar lebih artistik, efek CGI dengan layar hijau pun banyak dipergunakan di sini untuk menghadirkan latar belakang siluet jingga, namun malah menambah ke-absurd-an film ini.

Tidak ada hal lain, satu-satunya yg bisa membuat mata melek di satu jam terakhir adalah adegan ninja yg berloncatan dan ditebas dengan mudah oleh sang pendekar, sehingga darah pun bermuncratan. . Akhirnya selesai juga film berdurasi 95 menit (setelah sensor) yg pointless ini...

Warrior's Way, just a no way!

24 April 2011

Pengacara bermobil Lincoln

@Plasa Senayan XXI, studio 6, April 23 2011, 1615 hrs

Mick Haller (Matthew McConaughey) mendapatkan klien baru, Louis Rollet (Ryan Phillippe), seorang putra pengusaha kaya di Hollywood yg dituduh melakukan penganiayaan terhadap seorang pelacur. Rollet yang tampak polos dan tidak bersalah membela diri kalau pelacur itu telah berbohong karena ingin memeras uangnya saja. Dalam penyelidikannya, Haller menemukan kasus ini mempunyai hubungan dengan kasus lamanya yg membuat kliennya dipenjara, Jesus Martinez (Michael Pena). Tidak hanya itu, keselamatan Frank (William H. Macy), asisten Haller yang membantunya dalam pengumpulan bukti-bukti juga terancam. Begitu pula keselamatan mantan istrinya Maggie (Marisa Tomei) dan putrinya.

Film berdurasi hampir dua jam ini bukanlah film bertema hukum dan kriminal terbaik yg pernah dibuat. Bisa jadi, A few good men adalah film terbaik yg pernah ada untuk tema seperti ini. Tapi berhubung udah lama banget ga nonton film seperti ini, rasanya udah bagus banget penyajiannya.
Matthew McConaughey berakting baik dalam film ini sebagai pengacara yg cuek dan sering menangani klien-klien yg notabene adalah musuh masyarakat seperti pengedar narkoba dan anggota geng; setidaknya itu yg ditangkap penonton melalui dialog pertengkaran dengan Maggie yg berprofesi sebagai pengacara penuntut. Bukan pertama kali Matthew berperan sebagai pengacara setelah film A Time to Kill (1996). Disebut Lincoln Lawyer karena ke manapun dia pergi selalu menaiki mobil Lincoln yg disupiri Earl (Laurence Mason). Phillippe, Tomei dan Macy juga berakting cukup bagus sesuai dengan perannya masing-masing.
Buat pecinta film kriminal, tentunya sayang untuk dilewatkan, dan diperlukan konsentrasi penuh untuk menonton film ini, karena dialog demi dialog serta argumentasi di meja hijau adalah kuncinya.

petualangan si konyol adele blanc-sec yang biasa saja

@Plasa Senayan XXI, studio 4, April 23 2011, 1815 hrs

Mengambil setting tahun 1912, kehebohan terjadi ketika seekor Pterodactyl tiba-tiba muncul berterbangan di langit kota Paris dan mengakibatkan 3 orang terbunuh.
Ternyata Pterodactyl itu keluar dari telur dinosaurus berumur ratusan juta tahun yang tersimpan di museum sejarah nasional, karena kekuatan telepati professor Espérandieu. Akibatnya professor uzur itu akan menghadapi hukuman pancung dengan guilotin.
Sementara Adele Blanc-sec seorang penulis buku petualangan fiksi, baru saja pulang dari Mesir sambil membawa mumi yg dipercaya adalah dokter pribadi Firaun di masa kejayaannya. Adele berharap professor Espérandieu dengan kekuatan telepatinya bisa membangkitkan mumi itu untuk menyembuhkan adiknya Agathe yg koma.
Adele merasa sangat bersalah atas kejadian yg menimpa Agathe waktu permainan tenis, di mana kepala Agathe tertusuk oleh pin rambut kepunyaan Adele.

Well, bagaimanakah Adele bisa menyelamatkan professor Espérandieu dari hukuman matinya? dan apakah Agathe berhasil di"hidup"kan kembali?

Film besutan Luc Besson yg berdurasi sekitar 105 menit ini diangkat dari sebuah komik, sehingga jadilah sebuah film komedi berbalut aksi-aksi konyol tokoh utamanya, Adele. Jangan terlalu berharap akan banyak kandungan misteri dan pelajaran sejarah di dalamnya seperti Indiana Jones-nya Steven Spielberg.
Tidak tanggung-tanggung, adegan mumi yg hidup kembali dan berjalan-jalan di dalam museum akan mengingatkan kita pada film Night of the museum. Yup, film ini adalah perpaduan The Mummy, Indiana Jones dan Night of the museum tapi dengan level yg lebih konyol, karena terus terang... apa yg dilakukan tokoh Adele di film ini semuanya tampak begitu mudah.

Overall, film ini memang cocok sebagai sebuah hiburan karena unsur komedi dan komikal di dalamnya sehingga tidak membosankan, meskipun di bagian awal penonton dibuat sedikit bingung dengan perkenalan tokoh-tokoh film ini yg sepertinya sama sekali tidak berhubungan.
Tapi itu saja, penonton yg kritis tentunya akan menuntut lebih, mengingat temanya seakan-akan ingin merangkum semua film petulangan yg telah ada sebelumnya, tapi ternyata tidak lebih spektakuler!

Hal yg agak mengganggu adalah film berbahasa prancis ini telah di-dubbing ke dalam bahasa inggris. What are they keep doing this??
Aktris Louise Borgoin berhasil menghidupkan karakter Adele dengan baik dengan gaya bicara yang cepat, namun sayang ..... sepertinya akan lebih menggelitik bila didengar dalam bahasa Prancis.
Sebetulnya komik Adele ini mempunyai beberapa seri, tapi mengingat film pertamanya ini tidak begitu sukses, tidak perlu berharap banyak akan ada kelanjutannya, kecuali Luc-Besson mau berusaha untuk improvisasi ide ceritanya. Kalau tidak, penonton akan lebih menunggu sekuel Indiana Jones dan kawan-kawannya dari Hollywood....

21 April 2011

Search of the EAGLE

@blitzmegaplex GI, audi 5, April 21st 2011, 1645 hrs

Akhirnya gua kesampaian juga nonton film ini, bayangin udah lebih dari sebulan film ini nangkring di blitz! Well, maklum sedang paceklik film impor, hehehe...

Berdurasi sekitar 110 menit, Channing Tatum berperan sebagai Marcus Aquila, putra Flavius Aquila komandan dari legiun tentara Romawi ke-9 yg menghilang secara misterius ketika menginvasi inggris utara (Skotlandia) pada tahun 120 sesudah masehi. Diduga legiun itu telah dibantai oleh bangsa barbar lokal. Marcus berusaha mengembalikan kehormatan sang ayah, sehingga ia meminta untuk ditugaskan di sebuah garnisun romawi di inggris. Setelah mengalami luka parah ketika garnisun itu diserang kaum barbar, ia tetap bertekad untuk mencari lambang supremasi "the Eagle" yg dibawa sang ayah ketika invasi 20 tahun lalu, meskipun telah diberhentikan secara hormat dari ketentaraan.

Bersama Esca (Jamie Bell), seorang budak inggris yg dibelinya dari sebuah pertarungan gladiator, Marcus menyeberangi dinding buatan kaisar Hadrian untuk memasuki kawasan inggris utara untuk mencari "the Eagle"...

Terus terang, agak sulit mencari nilai lebih dari film ini bila dibandingkan dengan Centurion yg mengambil cerita sama mengenai legiun ke-9, apalagi dengan Gladiator. Bisa jadi dikarenakan bujet yg terbatas mengakibatkan penggambaran kemegahan kerajaan romawi hampir tidak ada. Penonton tidak merasakan atmosfir Romawi di awal masehi, karena setting-nya yg kurang "deskriptif". Yang ada hanyalah sekelompok tentara romawi yg berperang melawan bangsa barbar, dan adegan Marcus dan Esca yg dikejar-kejar. Untuk urusan akting, penonton tidak dapat berharap banyak, sebuah penampilan biasa dari Tatum, aksen Hollywood-nya makin menghilangkan unsur ke"romawi"an film ini. Jamie Bell yg bertransformasi secara fisik berakting lebih bagus.
Lepas dari keakuratan sejarah yg ditampilkan, film ini tidak bisa dibilang jelek juga, at least untuk penonton yg menyukai sejarah Romawi bisa terhibur dengan adegan pertarungan yg disajikan secara close-up. Dialog-dialog dalam bahasa scottish kuno (atau bahasa anglo-saxon??) juga ditampilkan di sini oleh Jamie Bell dengan para aktor figuran. Namun di beberapa bagian akan meninggalkan pertanyaan di benak penonton, terutama bagaimana Marcus bisa diselamatkan dari serangan kaum barbar sewaktu garnisunnya diserang, ataupun adegan pertarungan di bagian akhir cerita.

Secara pribadi, gua merasa istilah barbar yg digunakan dalam dialog film ini kontradiktif dibandingkan dengan sejarah yang ada, di mana tentara romawi adalah salah satu kejahatan kemanusiaan dalam setiap peperangan, namun mereka menyebut bangsa skotlandia sebagai bangsa barbar. Apalagi di film ini, bangsa barbar itu ditampilkan dengan make-up putih dan pakaian minim ala suku pedalaman afrika. Mungkin definisi barbar di sini adalah make-up dan pakaian yg dikenakan oleh seseorang, hehehehe..... Plus, bangsa romawi sendiri suka mengadakan petarungan antara gladiator dan budak mereka, jadi siapa yg barbar yah?

17 April 2011

Triangle, teka-teki dunia paralel tanpa kesimpulan

@Blok M Square 21, studio 3, Apr 17th 2011, 1440 hrs

Antara Masjid, Klenteng dan Gereja

@Blok M Square 21, studio 1, Apr 17th 2011, 1245 hrs

Kota Semarang, awal 2010, di jalan Pasar Baru...
Setiap orang punya cerita...
Setiap pribadi punya masa lalu...
Setiap manusia mempunyai jalannya masing-masing dalam mencari Tuhan...
karena kita memang berbeda dan saling terkoneksi....
namun pluralisme dan perbedaan selalu saja menjadi sebuah tanda tanya...
Kira-kira pesan itu lah yg ingin ditampilkan Hanung dalam film ini...

Apakah ini akan menjadi film terbaiknya Hanung? Sepertinya tidak, masih banyak hal nonteknis dalam film ini yg perlu diperbaiki.
Terutama karakter Rika (Enditha), banyak penonton yg tidak menangkap latar belakang Rika pindah agama karena kurang eksplisit. Berpindahnya Rika ke agama lain terasa agak dipaksakan dan kurang kuat. Pemasangan kayu salib di rumahnya, padahal dia belum resmi menjadi Katolik. Biasanya keluarga Katolik yg melakukan hal ini setelah rumah mereka diberkati. Rika yg dibaptis setelah misa jumat agung, biasanya malam paskah ataupun hari paskah. Menjadi sebuah "tanda tanya" buat gua. Belum lagi pemain drama penyaliban Yesus yang dibayar. Dari pengalaman gua semua pemain itu adalah sukarelawan, palingan dikasi jemputan dan dapet nasi kotak, hehehehe.....

Di tengah film, alurnya menjadi dragging dan intensitasnya menurun, menjadi sebuah "tanda tanya" kenapa tiba-tiba para tokoh yg berseteru tiba-tiba jadi berbaikan segampang itu. Baik hendra (Rio Dewanto) dan ayahnya (Hengky Solaiman), ataupun Menuk (Revalina) dan Soleh (Reza). Sebetulnya ada beberapa dialog yg masuknya kurang pas dan terkesan dibuat-buat hanya untuk memancing konflik, terutama dialog antara mantan ibu kost Surya dengan Surya (Agus Kuncoro). Ga jelas kenapa tuh ibu kost kepo amat, kalo cuman telat bayar uang kost. Tapi dendam benerrrrr kesannya.... Overall, konflik yg digambarkan dalam film ini terasa digampangkan dan dibuat-buat; mungkin ini yg membuat "panas" ormas tertentu yg mengecam alur cerita film ini.
Begitu pula ending-nya , "tanda tanya" terakhir pun terukir dalam pikiran gua, karena sebetulnya bisa aja Soleh melempar "barang" tersebut jauh-jauh...Mungkin biar dramatis....

Well, at least Hanung udah berani mengangkat tema pluralisme yg notabene adalah salah satu tema favorit gua.

Tapi Hanung berhasil memberikan unsur komikal yg menurut gua one of the best part in this movie yaitu pengamen jalanan yg menyanyikan lagu-lagu lawas Sheila on 7, that's nice! Juga adegan komedi lewat tokoh Surya, karena penonton paling sering ketawa lewat pemunculan karakter yang satu ini .

Sepertinya Semarang itu adalah salah satu lokasi suting favoritnya Hanung yah?? Lokasi gedung di pertigaan ketika Hendra berantem dengan segerombolan pria yg akan sholat di mesjid, itu lumayan sering muncul di film-film berlatar belakang historis. Kebiasaan barunya akhir-akhir ini adalah memunculkan istrinya sebagai cameo,termasuk pula anaknya, hehehehhe.... Btw, Zaskia jadi casting director di film ini (again?), sayang pas gua ngedipin mata, nama Zaskia muncul tapi ga keliatan sebagai apa.

Dari segi akting, peran Reza dan Revalina emang ga jauh-jauh dari hampir semua film yg sebelumnya bertemakan religi. Hanya saja di film ini, Reza diberi sedikit sentuhan antagonis. Agak aneh, kenapa Soleh ini selalu berusaha rekonsiliasi ama istrinya ketika istrinya sedang bekerja?? Ngapain coba waktu di rumah? Rio Dewanto, dohh... bahasa tubuhnya kaku bener... Enditha... hampir ga pernah nonton filmnya, jadi ga bisa comment banyak, meski cocok juga sebagai single parent dan tough woman. Hengky Solaiman dan Deddy sutomo, they are 70 years old this year! Salut buat mereka. Dann.... akting terbaik pun gua berikan kepada Agus Kuncoro yg berperan sebagai pemuda 30 tahun, piyo toh mas agoss.... udah mau kepala 4 loh.... tapi basically karakter dan aktingnya emang yg paling menonjol di film ini. Semoga Agus ini dapet nominasi di FFI mendatang, asal film Hanung ini termasuk dalam daftar seleksi film ajahh... hehehehe..
Wait... last but not the least, is that Glenn Fredly?? OMG, he is gaining some weight... with different style of glasses!

M.A.C.H.E.T.E

@Karawaci 21, studio 3, Mar 27th 2011, 1650 hrs

Mata Anak-Anak

@Season City XXI, studio 2, Mar 12th 2011, 1830 hrs

21 Februari 2011

The Fighter

@Senayan City XXI, studio 2, Feb 19th 2011, 1915 hrs

Ketika sang Raja belajar berpidato

@Senayan City XXI, studio 1, Feb 19th 2011, 1645 hrs

Season of the witch

@Blitzmegaplex CP, Audi 5, Feb 7th 2011, 1700 hrs

Mechanic, the slayer

@Pluit Village XXI, studio 2, Feb 7th 2011, 1425 hrs

SHAOLIN : sebuah pencerahan menuju pertobatan..

@Senayan City XXI, studio 3, Feb 6th 2011, 1515 hrs

Duo jagoan Hornet

@Senayan City XXI, Studio 2, Feb 6th 2011, 1845 hrs

Gemerlap panggung BURLESQUE

@Platinum XXI, studio 4, Feb 4th 2011, 1900 hrs

19 Januari 2011

Can i come in?

@Season City XXI, studio 4, Jan 17th 2011, 1915 hrs

Go to Italy with Jolie and Depp

@Season City XXI, studio 3, Jan 17th 2011, 1720 hrs

18 Januari 2011

Revenge is cured by forgiveness

@Senayan City XXI, Studio 2, Jan 13th 2011, 1845 hrs

the GODfocker...

@Senayan City XXI, Studio 3, Jan 13th 2011, 1705 hrs