11 Mei 2015

Back from the dead : when Carrie meets Lucy

Plasa Senayan XXI, studio 3, 7 Mei 2015, 1715

Trus terang gua menonton film ini tanpa ekspektasi, mengingat film ini "dianugrahi" tomat busuk di rottentomatoes dan "agak" jeblok dalam peredaran domestiknya.
Ide cerita yang ditampilkan sebetulnya bukan tema baru, dan gua akui cukup menarik, tentang sekelompok mahasiswa kedokteran bereksperimen untuk menghidupkan kembali makhluk yang sudah meninggal. Pertama-tama, percobaan dilakukan pada seekor anjing yang sudah mati, and bangg.... disuntik serum sambil diberikan kejutan listrik, anjing itu pun kembali hidup, namun terlihat sangat pendiam.

is it a monster movie?

Blitz Pacific Place Audi 4, 6 Mei 2015, 1755

30 April 2015

Ultron : Tony Starks' Frankenstein..

Plasa Senayan XXI, studio 1, 29 April 2015, 1915

Hmm.. sepertinya gua termasuk penonton yg telat seminggu menyaksikan film berdurasi 140 menit yah... Well, at least ga perlu ngantri capek-capek, cukup 25 menit sebelum pertunjukkan dimulai, masih dapet tempat duduk yg pas tengah, bahkan studionya hanya terisi sepertiga aja. Sebetulnya pun, film ini bukan summer-movie yg gua tunggu, mungkin karena udah kebanyakan... 2 film kapten, 3 manusia besi, 2 palu gada, 2 manusia ijo, dan 1 avengers.

Setelah berhasil memporakporandakan kota Sovokia (plesetan dari Slovakia kah?) untuk merebut kembali "tongkat Loki" dari tangan Hydra yg berpusat di sana, tim Avengers kembali ke markas pusat untuk meneliti apa kandungan "tongkat" tersebut. Di saat yg sama, Tony Starks sedang membuat prototype robot Ultron untuk menjaga perdamaian dunia sehingga tim Avengers bisa pensiun dan mundur dari dunia persilatan.

22 April 2015

A complete failure of an invisible man


Plasa Senayan XXI, studio 5, 22 April 2015, 1830

Ketika gua bilang mau nonton film india ke temen-temen kantor, muka mreka langsung berubah seperti menyimpan seribu komentar yg engga enak untuk dilontarkan, LOL... Tiba-tiba ada yg nyeletuk, "film india itu romantis lho.. nyanyi-nyanyi di bawah ujan, sambil ngiderin pohon"

Oke, trus terang gua sama sekali have no idea, siapa yg sutradara, aktor dan aktris film ini. Gua cuman baca sinopsisnya yg bikin penasaran dari website 21/xxi. Berikut kutipannya: "MR. X bercerita tentang seorang pria yang memilih untuk membalas dendam kepada kelompok yang telah memukulinya setelah ia mendapatkan kekuatan super yang membuat ia tidak bisa terlihat oleh siapapun."
Berasa kerennn ga sih, superhero lho (posternya sendiri cukup promising kan?)... gua jadi inget film Hollow Man yg menurut gua cult abiss di jamannya. Bisa jadi, film ini agak menjiplak Hollow Man sih, tentang seseorang yg mempunyai kemampuan kasat mata. Selama ini kita berpikir cuman hollywood aja yg mampu membuat film superhero (againn...), tapi jangan salah ini bukan film India pertama yg gua tonton ttg superhero. Dua tahun lalu gua sempet menonton Krrish 3 yg dibintangi oleh Hrithik Roshan. What?! Krissh empu gandring yg dibintangi oleh Rintik hujan?? gua yakin hampir semua mungkin ga pernah tau film ini, mengingat cuman gua sendiri yg menonton dalam satu studio, yep... literally, i was alone watching that movie!

Mungkin banyak yg belum mengetahui kalau perfilman Bollywood sudah maju dalam menampilkan visual efek dalam film mereka, meski blum bisa mengalahkan hollywood, tp at least mereka ga make efek seperti dalam sinetron indosiar itu, hahahaha...
Begitu pula Mr. X ini dari segi visual sudah cukup memanjakan mata, termasuk setting dan cinematografinya, damned! Katanya sih lokasi shooting-nya di mumbai, ga nyangka aja kalau mumbai mempunyai spot-spot yg sebagus itu. Selama ini gua berpikir kota-kota di india itu rada kumuh. Tapi yah sebelas dua belas ama Jakarta, di sebelah gedung pencakar langit, ada sungai jorok penuh dengan sampah dan pemukiman liar pinggir kali.

Film ini dibuka dengan opening credits yg "kurang kreatif" untuk standar film super-hero, untung aja ketolong ama theme song utamanya yg sampe sekarang masih berdengung di telinga gua.. "you can call me X, you can call me X, you can call me X, mister X".
Bagaimana dengan porsi lagu dan tarian ala indiahe dalam film berdurasi 125 menit ini? Ga perlu kuatir, dengan durasi yg cukup singkat untuk ukuran film india, cuman ada dua lagu yg dinyanyikan,  sisanya hanyalah background theme.

Raghu (Emraan Hashmi) dan Siya (Amyra Dastur) adalah pasangan yg bekerja di kepolisian ATD (ga tau singkatannya apa, mungkin semacam FBInya India) dan mereka tinggal satu atap di apartemen yg indah buanget.. beneran koq.  Suatu ketika mereka ditugaskan oleh atasannya, Bhardwaj untuk melindungi perdana menteri yg sedang mengadakan konferensi di sebuah hotel karena ada percobaan pembunuhan terhadap sang PM oleh teroris apa gitu. Siya diminta untuk mengawasi kamar hotel orang yg dicurigai sebagai teroris. Dan Raghu diminta untuk mengawasi ruang konferensi.
Ternyata Raghu dipaksa oleh atasannya sendiri untuk membunuh langsung sang PM atau Siya akan ditembak oleh sniper yg udah stand-by mengarah ke kamar hotel tempat Siya bertugas. Pasangan ini rupanya terseret dalam sebuah konspirasi pembunuhan untuk menggulingkan PM yg diprakarsai oleh anaknya sendiri Aditya bekerja sama dengan petinggi ATD, Bhardwaj! Demi cintanya pada Siya, Raghu akhirnya menembak sang PM dan dikejar satuan unit polisi yg dipimpin oleh Bhardwaj. Stop! sampe di sini, gua berpikir, keren juga nih Bollywood bisa membuat cerita kayak gini.

Dari hari yg masih terang di hotel, tanpa ada adegan kejar-kejaran yg terlalu lama, pengejaran polisi terhadap Raghu langsung berakhir di sebuah pabrik tua dalam kondisi malam hari, dan di sinilah semua keanehan film ini dimulai. Raghu yg terpojok dan tidak berdaya akhirnya diledakkan bersama pabrik tersebut. Mayatnya tidak dapat ditemukan oleh polisi karena "tertimbun" di dalam reruntuhan triplek atau kayu gitu. Wait... reruntuhan kayu/triplek?? Hebat sekali memang!

Selanjutnya film action yg seharusnya bernapaskan thriller ini terus menampilkan ide-ide fiksi ilmiah yg menyiksa logika penonton.

Meskipun pabrik itu terbakar semua, ajaibnya masih ada jaringan telepon yg masih bisa dipakai Raghu untuk menelepon Popo, sahabatnya di ATD yg pernah ditolong, yeahhh, another miracle happens here, people! Popo langsung datang membawa Raghu kepada kakaknya , seorang peneliti yg bekerja di sebuah laboratorium genetika or something like that. Kulit Raghu termasuk wajahnya melepuh semua, namun hebatnya pakaian dan jaket yg dipakai Raghu sama sekali tidak terbakar. Dari sample darah, Saudari Popo mengatakan kalau Raghu sudah teradiasi karena ledakan pabrik tersebut, dan pakaiannya tidak dapat dilepas karena sudah menyatu dengan kulit Raghu, bila dilepas berarti sama saja dengan mengulitinya, begitulah analisa jenius sang peneliti yg satu ini. Raghu pun diberi minuman sebuah racikan yg belum selesai diteliti supaya dia tidak mati karena radiasi tersebut. Keajaiban pun terjadi, ntah cairan apa yg diminum dan radiasi apa yg udah menggerogoti Raghu, tiba tiba Raghu menjadi kasat mata, dan hanya bisa dilihat apabila terkena sinar ultra violet dan lampu neon. Jrengg..... Begitu pula jaket kulitnya yg mungkin udah berevolusi menjadi subtansi sel tubuh manusia, ikut menjadi kasat mata. Woww...this is a new unexplained science!
Dan Raghu pun berencana membalas dendam terhadap orang-orang yg sudah mengambil kehidupannya, dengan menamakan dirinya mr. X, ta..raaa.....

Cinta berbalik pun berbalik menjadi rasa benci.  Siya yang mengira kalau Raghu telah meninggal, berpikir kalau Raghu telah mengkhianati cintanya.. Karakter Siya ini agak inkonsisten, karena dari yg cinta banget, terus berubah jadi benci banget, dan tiba-tiba cinta lagi karena (langsung) percaya ama cerita Raghu, namun dia tetap menganggap Raghu adalah vigilante yg harus ditangkap karena telah membalas dendam demi kepentingan pribadi, yg notabene berkaitan dengan Siya sendiri. Padahal Raghu udah bercerita kalau dia melakukan pembunuhan demi menyelamatkan Siya, emang ga tau diuntung cewek yg satu ini. Hmm....

Siya yg berusaha berusaha menangkap mr. X berusaha melindungi salah satu incaran balas dendam mr. X bernama Tiwali dengan menyembunyikannya di sebuah klub malam. Ntah gimana caranya mr. X tahu lokasi dan ruangan tempat disembunyikannya Tiwali. Ketika film makin mendekati akhir cerita,  logika penonton dipaksa untuk menerima kemampuan kasat mata Raghu yg semakin membingungkan, di mana bisa menghilang dan muncul seenak jidat padahal jelas-jelas tidak ada lampu neon dan sina ultra violetnya yg mengenainya langsung...

Well, dua pertiga film ini alurnya mudah ditebak, karena banyak diisi dengan bumbu drama yg memang adalah jagoannya bollywood, plus sedikit twist untuk menyelamatkan filmnya di bagian ending, namun hal tersebut tidak dapat memulihkan logika penonton yg sudah terlanjur lelah. LoL.

~end of story~




20 April 2015

the unexpected ignorance of a true artist

Plasa Senayan XXI studio 7, 20 April 2015, 1700

Asli dah... film pemenang oscar ini telat banget diputer di sini, apalagi sebetulnya film ini diputar pertama kali di Amrik bulan Oktober 2014. But at least, empat dari delapan film nominasi Oscar 2015 berhasil masuk ke indo : American Sniper, Imitation Game, Whiplash (unfortunately i don't watch this one) dan Birdman tentunya.

Film ini disutradarai Alejandro Inarritu, wait... siapa sih Alejandro ini? tentunya bukan judul lagu Lady Gagak, LOL. Seinget gua, sempet menonton dua filmnya yg juga pernah masuk nominasi oscar yakni BABEL dan Amores perros yg di dalamnya menyajikan beberapa cerita. Jadi, Alejandro ini bukanlah sutradara kemarin sore yg baru aja menyutradai sebuah film.

Balik ke filmnya, Riggan Thomson (Michael Keaton) adalah aktor yg pernah populer di jamannya ketika dia pernah membintangi film action super-hero berjudul Birdman sampai tiga seri. Sekarang di usianya yg sudah 60 tahun, dia berusaha membangun citra diri sebagai seorang aktor sejati dengan memproduksi sebuah pertunjukkan broadway perdana di kota New York. Bahu membahu bersama sang sahabat yg cerewet Jake (Zach Galifianakis) dan anaknya, sekaligus asistennya, Sam (Emma Stone), Riggan berusaha mati-matian untuk yg terbaik demi menyelamatkan karirnya, termasuk ketika dia harus menemukan seorg aktor pembantu pengganti  yg diperankan oleh Edward Norton.
Digambarkan kalau Riggan ini punya alter ego yaitu dirinya sendiri berkostum "Birdman", yg selalu mempengaruhi pikirannya untuk kembali bermain film action superhero. Adegan demi adegan sempet mengecoh gua, awalnya gua berpikir kalau Riggan memang mempunyai kekuatan superhero, yg ternyata adalah imajinasi belaka.

Gua jarang melihat film-filmnya Michael Keaton, tapi aktingnya di film ini termasuk oke lah, meski ga wow banget. Sedangkan Edward Norton yg sudah sering mendapatkan penghargaan, gua melihat engga ada sesuatu yg baru di film ini dari segi aktingnya yg selalu terlihat serius.
Naomi Watts yg berperan sebagai Lssley, salah satu aktris panggung asuhan Riggan, terlihat lebai dalam banyak dialog yg menurut gua sama sekali ga relevan sama karakternya yg rada ga jelas. Rasanya ga perlu seorang Naomi Watts untuk karakter Lesley ini. Sayang sih, mengingat dia juga sering menjadi langganan nominasi di ajang penghargaan akting, meski jarang menang. Justru yg bikin gua surprise adalah akting Emma Stone yg terlihat kurus dengan mata be'lo nya yg keliatan hampir mau copot, cocok dengan karakternya yg baru keluar dari panti rehabilitasi narkoba. Pokoke beda banget ama aktingnya di film macem Amazing Spiderman. You go girl! No doubt, you could act!

Sebetulnya, gua kurang suka dengan penggambaran imajinasi pergulatan pikiran Riggan versus alter ego-nya. Namun film ini berhasil menggambarkan bahwa seorang aktor berbeda dengan selebritis. Dari beberapa dialognya, gua menangkap sepertinya film ini dibuat sebagai "sentilan" untuk para aktor aktris berbakat yg akhirnya "nyemplung" ke dalam film komersil bertemakan action super-hero. Mengingat semua film karya Alejandro adalah film non mainstream yg hanya bisa dinikmati oleh sebagian kecil orang. Bisa jadi, untuk sebagian besar penonton awam akan merasa Birdman adalah film yg pointless, dan cuman ngobrol-ngobrol ga jelas dari awal sampe akhir, dengan sedikit bumbu komedi satir yg engga lucu-lucu amat. Ngomong-ngomong soal ending, sebetulnya gua berharap sesuatu yg lebih dramatis terjadi pada tokoh utamanya.

Hal lain yang unik dari film ini adalah  scoring atau musiknya yg sangat minimalis, hanya terdengar suara biola dan tabuhan drum serta bass yg bertalu talu untuk menambah intensitas beberapa adegan, padahal adegan tersebut berasa biasa banget tanpa musik perkusi tersebut, yah mungkin itu gunanya scoring, hehehehe. Kemudian ada pengambilan gambar long-shot yg berputar plus dialog yg cukup panjang, tentunya hal ini sangat menguras kekuatan akting para bintangnya terutama dalam menghapalkan dialog, hahahaha..

Well, gua berasa film ini agak overrated sampai dianugrahi predikat best picture di ajang oscar lalu. Sebagai nominasi okelah, sepertinya masih ada film lain yg lebih pantas menyandang predikat best picture, imitation game yg dibuat berdasarkan tokoh nyata misalnya. Toh, meskipun film ini engga bisa dibilang "bagus sekali", namun berhasil memberi pesan, bukanlah hal yg mudah bagi seorang aktor, sutradara, atau siapapun yg terlibat dalam sebuah produksi untuk menjadi artis sejati. Diperlukan sebuah idealisme, komitmen, dan aktualitas. Lebih mudah menjadi seorang selebiritis, cukup dengan sebuah peristiwa sensasional, boom! dalam sekejap seseorang langsung bisa menjadi selebritis. Contohnya di negara ini, memang lebih banyak selebritis daripada artis sejati. Sebut saja artis (kalau memang layak disebut artis) yg suka mengumbar sensasi entah gaya rambut atau pengalaman jalan-jalannya, LOL...

~end of ignorance~

14 April 2015

coffee obsession

@Puri XXI studio 4, 14 April 2015, 1435

hello world, i am coming back for my blog!
Tadinya gua sama sekali ga kepikiran untuk ngelanjutin blog ini, sampe gua membaca dengan detil tag-line  poster film di atas "temukan dirimu di sini". Serasa ada kerinduan yg hilang dan kini muncul (dooh.. bahasanya).
Trus terang gua penasaran sama filmnya, meskipun gua bukan seorang penikmat kopi, karena masalah asam lambung, poor me huh! buat yg blum tau, kalau kopi, coklat dan teh itu mengandung asam yg cukup tinggi. Jadi, beruntunglah buat kalian yg masih bisa menikmatinya. Kemudian gua coba mengingat-ingat kembali kalau tahun lalu di Blitz sempat diputer sebuah film dokumenter tentang kopi indonesia. Yes, dari hasil google gua menemukan judulnya adalah "Aroma of Heaven". Ada yg bilang kalau negara kita tercinta adalah penghasil kopi terbesar ketiga setelah Brazil dan Vietnam. Sumber lain mengatakan nomor delapan. Baiklah, mau nomor tiga atau delapan, kita masih termasuk top ten kan? hehhee... dan yg patut digarisbawahi adalah penikmat kopi di indonesia tidak seproporsional dengan jumlah yang dihasilkan, apakah mungkin banyak penduduk indonesia yg mempunyai masalah lambung kayak gua? LOL... menurut sumber yg dipercaya, kopi kita banyak diekspor ke luar negeri, salah satunya adalah Amerika, ga heran banyak coffee shop di sana, dan salah satunya diimpor ke sini dengan logo putri duyung warna ijo itu, ironis juga yah... hmmm.. atau jangan-jangan coffee shop ikan duyung itu memakai kopi produksi indonesia? Hmm..... bisa aja kan...

Inuf said, kita balik ke filmnya. Film ini mungkin bisa dikategorikan tema kuliner kali ya? kecuali kalau kopi bukan termasuk kuliner. Ada beberapa istilah jenis kopi yg sempat disebutkan, seperti espresso, cappucino, kopi tubruk. Dan gua yakin, pastinya penggila kopi ngerti banget kalo ngomongin soal ini. Tapi film ini engga melulu ngomongin soal kopi koq, jadi film ini bukan tentang cara membuat kopi, atau mengajarkan anda menjadi seorang barista, hahahaha... banyak unsur drama yg diselipkan ke dalamnya, terutama hubungan anak dengan orang tua dan sosok seorang ayah.

Dilihat dari komposisi cast, gua pikir film ini udah oke, duet Chicco dan Rio sebagai sodara angkat (atau sahabat lebih tepatnya)  udah pas, ditambah dengan kehadiran si cantik Julie Estelle. Ngomong-ngomong tentang sodara, film ini berasa ada missing-link tentang gimana tokoh Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) bisa bertemu, di film ini cuman diceritakan kalau Ben di"adopsi", disekolahkan (atau apalah istilahnya) oleh almarhum ayah Jody sejak umur 12 tahun. Ga tau gimana caranya sang almarhum ayah Jody bisa menemukan sosok Ben yg tinggal di kampung.
Loncat dari titik tersebut, langsung diceritakan kalau Ben dan Jody mengelola sebuah kedai kopi bernama Filosofi Kopi. Jody yg keturunan tionghoa selalu berpatokan bahwa kedai mereka harus "cuan" (untung) untuk menutupi hutang bisnis mereka yg senilai 800 juta. Ya iyalah, siapa yg mau rugi berbisnis, kalo rugi mendingan tutup juga kan. Hal ini bertolak belakang dengan gaya Ben yg santai dan agak sedikit urakan mirip rocker. Sepertinya tokoh Ben memang sengaja ditampilkan seperti ini supaya terlihat kontras dengan tokoh Jody yg pemikir dan berpenampilan rapi. Ben seakan-akan ga mau perduli dengan utang bisnis mereka dan tetap optimis, akan tetap ada pelanggan yang benar-benar penikmat kopi akan datang terus ke kedai mereka sehingga bisnis mereka akan tetap berdiri! pe-de juga yak... bahkan Ben bersikeras tidak mau memasang wi-fi di kedai mereka karena prinsipnya tersebut. Hari gini, coffee shop ga pake wi-fi?? LoL

Alur crita film ini berjalan mulus-mulus aja, saking mulusnya gua berasa ga ada klimaks. Konflik yg ditampilkan memang ada, tapi berasa kurang nampol. Seperti adegan ketika Ben dan Jody bertengkar soal hutang bisnis kedai kopi mereka. Jody selalu bersikeras kalau dia lah yg punya andil terbesar dalam bisnis ini karena semua memakai modal dari keluarganya. Bahkan Jody mengungkit-ungkit kalau Ben disekolahkan oleh sang almarhum ayah Jody. Herannya Ben sama sekali ga marah, padahal dialog yg sama dilontarkan Jody sampai dua kali. Gua berharap mreka berantem sampe pukul-pukulan atau apa lah... Mungkin tokoh Ben adalah pecinta damai, hahahaha.. atau produser film ini tidak mau ada kekerasan antar kedua tokoh utamanya yah? Ohh...jangan lupa Chicco juga bertindak sebagai produser lhooo bersama dengan Glenn Fredly. Ini salah satu pendorong buat gua menonton film ini.

Nah, untung aja ada seorang pebisnis yg menantang Ben untuk membuat kopi dengan cita rasa terbaik yg pernah ada. Singkat kata Ben berhasil melakukannya dengan bantuan El (Julie) yang ternyata adalah seorang blogger kopi yg sedang menulis buku tentang kopi. Ternyata kopi terbaik yg pernah diicip oleh El adalah racikan pak Seno di kawasan Ijen, Dan hasil tantangan tersebut, duo Jody dan Ben mendapatkan uang satu milyar! yup, satu milyar, dipotong utang 800 juta, sisa dua ratus juta, dipakai untuk membantu salah satu karyawan mreka yg sedang mengalami musibah untuk operasi, dan tentu saja untuk membayar "royalti" kepada pak Seno yang ga jelas berapa besarnya...

Selain itu, ada dialog yg berasa mengganggu seperti curhatan-curhatan El kepada Jody yg menurut gua sih bisa diedit lagi atau dihilangkan saja. Toh ga ada gunanya juga, di bagian awal digambarkan sepertinya El adalah love-interest nya Jody namun ternyata di ending cerita...hmmm... i can't tell, it would be spoiler, hahahahaha....

Ga bisa disangkal film ini mempunyai pengambilan gambar yg indah dengan iringan komposisi lagu yg easy listening menjadikannya sebuah feel-good movie.

Ending film ini agak berasa ga jelas, karena Jody, Ben, beserta tiga karyawan mereka pergi keliling indonesia dengan sisa duit yg ada (emang ada sisa yak?) untuk mempromosikan filosofi kopi dengan middle-bus dua tingkat yg dibeli oleh Jody. Ga jelas dengan modal dari mana, hmmm..mungkin dr modal hasil penjualan kedai mereka. Yup, Jody menjual kedai mereka... untuk membiayai perjalanan mreka keliling indonesia berlima! Belum lagi, salah satu karyawan perempuannya ikut mereka keliling indonesia padahal suaminya baru mengalami kecelakaan. Ya sudahlah, terserah mereka mau ngapain. Kalaupun dana mereka tidak cukup, engga usah kuatir karena kopi Torabika menjadi sponsor dari film ini, hahahaha....

seperti yg gua tulis di atas, film ini tidak melulu tentang kopi. di mana cita rasa kopi terbaik tidak hanya bergantung pada si peracik, tapi semua juga berawal dari ketika kopi itu ditanam... Menanam kopi harus dengan rasa cinta, diolah dengan sebuah keahlian dan terciptalah secangkir kopi yg nikmat.... begitu pula dengan hidup.. semua yg kita kerjakan harus dengan rasa cinta yg datang dari hati. Yg terpenting lagi, sebagaimana pun nikmatnya secangkir kopi, pasti ada rasa pahit di dalamnya yang tidak dapat disembunyikan, seperti masa lalu yg mungkin terasa pahit.. yg bisa kita lakukan adalah berdamai dengan masa lalu itu.
 

~end of story~



08 Juni 2011

What is your favorite scary movie?

@Karawaci XXI, studio 1, Jun 7th 2011, 1815 hrs

Lost Bladesmen

@Pluit Junction XXI, studio 1, May 23th 2011, 1430 hrs

what would you if you knew you had less than a minute to live?

@Karawaci XXI, studio 1, May 19th 2011, 1830 hrs

15 Mei 2011

Sebuah cermin kehidupan di wakatobi yg nyaris tanpa konflik...

@Blok M Square 21, Studio 5, May 14th 2011, 1545 hrs

Dekade lalu ada iklan lawas sebuah rokok bermerk B, dengan slogan "i love the blue of indonesia"
Yes, that is the reason i watch this movie...blue is fave colour and beach is my fave destination...

Dibuka dengan adegan seorang anak perempuan yg tidak bisa tidur, lalu bangun dan mendayung sampan ke laut, film ini diberi judul the mirror never lies, dan diartikan subtitle menjadi LAUT BERCERMIN, nah lohh...??

Pakis adalah seorang anak perempuan dari Suku Bajo yg duduk di bangku SD, merindukan ayahnya yg hilang ketika mencari ikan di laut. Adalah sebuah cermin yg merupakan satu-satunya "peninggalan" sang ayah, dan Pakis selalu membawa cermin itu ke seorang dukun guna mencari keberadaan sang ayah.
Maklum, namanya juga wong ndeso.... masih percaya hal-hal tahayul.
Suku bajo adalah kelompok kecil dari masyarakat sulawesi tenggara yg hidupnya terpisah dari pulau utama dan bergantung pada hasil laut.
Para suami mencari ikan-ikan sampai beberapa waktu, dan kemudian pulang untuk dijual oleh para istri.
Mereka tinggal di pemukiman bambu-bambu yg dibangun di atas air, lengkap dengan listrik dan parabola untuk menangkap siaran tivi.
Bahkan anak-anak mereka harus mendayung sampan untuk mencapai sekolah yg dibangun di atas air yg masih jernih. Jangan dibandingkan dengan pemukiman nelayan di muara angke yg dibangun di atas air laut berwarna coklat bak comberan.
Kira-kira begitulah kehidupan suku bajo yg gua tangkap melalui film ini.

Secara keseluruhan , film ini berhasil sebagai alat propaganda untuk mengajak penonton lebih menghargai (sekaligus lebih mengenal) kehidupan hayati indonesia, terutama laut. Sekedar tambahan info dari wikipedia, kalau wakatobi merupakan bagian dari taman nasional wakatobi (nama wakatobi sendiri diambil dari pulau-pulau yg membentuknya yakni Wangiwangi, Kaledupa, Tomea, dan Binongko).

Namun bila dilihat dari value sebagai sebuah film, Mirror masih jauh dari harapan.
Ini ga bisa disangkal karena WWF memang menjadi eksekutif produser film ini bersama dengan pemda kabupaten Wakatobi, menitikberatkan tujuan di atas.

Film ini sepertinya membuang sia-sia akting Reza Rahardian yg berperan sebagai Tudo yg sudah dianugrahi 2 piala FFI. Asli, gua bosen ngeliat aktor yg satu ini, udah kayak Lukman Sardi yg kejar setoran.
Tudo adalah seorang peneliti lumba-lumba dari jakarta yg melakukan penelitiannya di sana dan menginap di rumah Tuyang, ibu pakis (diperankan Atiqah Hasiholan).
Lambat laun ada sedikit cinta yg tumbuh antara Tuyang yg memang kesepian karena ditinggal suami dengan Tudo yg sepertinya juga kesepian. Pakis juga ternyata menyimpan rasa suka pada Tudo, dikarenakan kerinduan atas figur seorang ayah.
Karakter Tudo tidak dielaborasi sama sekali, padahal dia menyimpan sebuah gaun putih berukuran kecil yg tidak dijelaskan latar belakangnya sampai film berakhir. Tidak hanya itu, cinta segitiga (kalau emang bisa disebut cinta) berakhir begitu saja nyaris tanpa konflik dengan alur yg sepi dan datar. "Kesepian" film ini hanya bisa dipecahkan ketika Tuyang memarahi Pakis karena terlalu berharap sang ayah bisa ditemukan lewat cermin peninggalan itu dan juga tingkah Lumo (teman Pakis) yg tengil.
Atiqah yg muncul bermaskeran hampir sepanjang film, membuat penonton bingung, apakah karena dia dikontrak oleh sabun bermerk tiga huruf itu, sehingga mukanya harus dimaskerin supaya tidak terbakar?
Ternyata dia emang seorang wanita yg setia terhadap suaminya, supaya tidak dilirik oleh pria lain sehingga mukanya harus dimasker sperti itu.
Penampilan Atiqah di film ini untuk berdialog dalam bahasa bajo serta menghitamkan kulitnya mengingatkan pada akting Alexandra Gottardo dalam film Tanah Air beta.

Untung aja, film ini masih mempunyai detak nadi yg dipacu oleh karakter Lumo (artinya lumba-lumba dalam bahasa indonesia) yg menyimpan rasa suka kepada Pakis.
Lumo yg gaya tertawanya lebai bin alai ini berhasil memancing tawa penonton lewat aktingnya yang natural, lebih baik dari akting pemeran Pakis. Lumo bersama satu temannya lagi yg hobi menyanyikan lagu melayu mengingatkan kita kepada karakter di Laskar Pelangi yg melantunkan lagu melayu (lupa nama karakternya).
Kenaturalan film ini juga ditampilkan lewat dialognya yg sebagian diucapkan dalam bahasa suku bajo , tentunya dengan subtitle bahasa indonesia.

Yang jelas, karena film ini merupakan proyek ambisius Nadine Chandrawinata yang memang hobi menyelam (duduk di bangku produser bersama dengan Garin Nugroho) ,
maka semua pemeran dalam film ini pun harus dituntut untuk bisa berenang sekaligus menyelam, termasuk Atiqah dan Reza. Semuanya berhasil direkam dengan cukup baik lewat sinematografi yg mengambil gambar bawah laut dan indahnya warna senja ketika sang surya terbenam.

Penantian gua untuk melihat lumba-lumba pun tercapai ketika mamalia yg satu ini muncul meski hanya semenit menjelang akhir film, at least ini menjelaskan Tudo memang seorang peneliti lumba-lumba. Sebetulnya gua berharap ada adegan para karakternya berenang bersama lumba-lumba, tapi sayang... bisa jadi WWF akan melarang hal tersebut.

Karena nyaris tanpa konflik, sampai di akhir cerita penonton sama sekali tidak mendapatkan apa-apa dari rangkaian cerita yg sudah terjalin, akibatnya secara keseluruhan film ini lebih cocok dimasukkan ke dalam salah satu episode discovery channel yang bercerita budaya dan hidup masyarakat wakatobi.

Well, film yg berdurasi 100 menit ini terasa panjang, ditutup dengan closing credit yg pendek, dan sepertinya tidak didukung oleh Kementrian budaya dan pariwisata.
Menjadi tanda tanya buat gua, apakah sang menbudpar sudah menonton film ini karena jelas-jelas wakatobi adalah sebuah komoditi yg mempunyai nilai jual tinggi, dibandingkan kebanggaannya ketika menghadiri premier film tante julia (makan, berdoa dan cinta), padahal Bali diekspos secara minimalis dalam film tersebut.

04 Mei 2011

Penjahat masyakarat Prancis nomer 1 (bagian kedua)

@BSD XXI, studio 2, May 3rd 2011, 1400 hrs

01 Mei 2011

Warrior's Way, when ninjas meet cowboys

@Plaza Blok M 21, studio 5, Apr 28 2011, 1645 hrs

Akhirnya kesampaian juga nonton film ini, meski harus mengejar sampai ke Blok M. Terus terang bioskop yg satu ini sudah waktunya untuk direnovasi, terutama sub woofer-nya dengan suara yg bleber ke mana-mana. Lalu, apakah film ini worthed untuk ditonton? Hmm.... Sekilas memang film ini mirip Ninja Assassin, mungkin karena sama-sama dibintangi oleh aktor korea, dan banyak ninja-nya.

Di waktu dan tempat yg tidak disebutkan terdapatlah dua klan yg saling bermusuhan. Sang pendekar yg memenangkan pertarungan (Jang Dong Gun), diharuskan membunuh semua anggota klan musuh tanpa terkecuali seorang bayi, namun ia malah tidak membunuhnya, akibatnya ia pun dikejar-kejar oleh klannya sendiri di bawah perintah sang guru (Ti Lung). Sang pendekar tak bernama itu (kita sebut aja Gun-gun) melarikan diri ke daerah koboi di barat sambil membawa si bayi. Daerah koboi yang dihuni oleh sekelompok sirkus itu sendiri sedang mengalami tekanan seorang kolonel koboi hidung belang yg ga jelas dari mana (Danny Huston). Gun-gun bersahabat dengan semua para pemain sirkus, ada orang kerdil, ada cewek cantik (Kate Bosworth), ada pemabuk tua (Geoffrey Rush), dan lain-lain, yg gua kaga inget sama sekali nama karakter mereka, karena memang semua karakter di sini ga penting!

Udah bisa ditebak, kalau gun-gun yg pelit dialog ini (gua inget banget dialog pertamanya adalah "I do not know..") membela para pemain sirkus dari tekanan kolonel, plus ancaman sang guru yg mengejarnya sampai ke daerah koboi... Apakah gun-gun berhasil? Tentunya bisa ditebak, bahkan ga perlu dipikirin gun-gun berhasil atau tidak.

Well, dari awal, film ini memang udah terlihat ga beres, hampir setengah jam pertama, film ini disajikan hanya dengan prolog tanpa dialog.
Semua karakter di film ini betul-betul ga ada yg menarik simpati, penonton tidak perduli sama sekali mereka mati ataupun hidup.
Penampilan Kate Bosworth just a waste, apalagi Geoffrey Rush, i wonder why he is taking this role?? Dari pemabuk lalu tiba-tiba jadi jago menembak. Kemudian kelompok sirkus yg ga jelas kerjaannya ngapain, karena yg tinggal di sana hanyalah mereka, tanpa penonton! Belum lagi, bagaimana mereka bisa hidup di tempat yg kering dan berpasir seperti itu menjadi sebuah tanda tanya besar. Adegan pertarungan yg ditampilkan tidak seperti di film-film kungfu mandarin. Jangan berharap akan ada pertarungan panjang ala martial-arts Ip-Man. Sang pendekar tampak amat sangat mudah menghabisi semua lawannya dengan sekali tebasan pedang, hebat sekali bukan? Dengan maksud agar lebih artistik, efek CGI dengan layar hijau pun banyak dipergunakan di sini untuk menghadirkan latar belakang siluet jingga, namun malah menambah ke-absurd-an film ini.

Tidak ada hal lain, satu-satunya yg bisa membuat mata melek di satu jam terakhir adalah adegan ninja yg berloncatan dan ditebas dengan mudah oleh sang pendekar, sehingga darah pun bermuncratan. . Akhirnya selesai juga film berdurasi 95 menit (setelah sensor) yg pointless ini...

Warrior's Way, just a no way!

24 April 2011

Pengacara bermobil Lincoln

@Plasa Senayan XXI, studio 6, April 23 2011, 1615 hrs

Mick Haller (Matthew McConaughey) mendapatkan klien baru, Louis Rollet (Ryan Phillippe), seorang putra pengusaha kaya di Hollywood yg dituduh melakukan penganiayaan terhadap seorang pelacur. Rollet yang tampak polos dan tidak bersalah membela diri kalau pelacur itu telah berbohong karena ingin memeras uangnya saja. Dalam penyelidikannya, Haller menemukan kasus ini mempunyai hubungan dengan kasus lamanya yg membuat kliennya dipenjara, Jesus Martinez (Michael Pena). Tidak hanya itu, keselamatan Frank (William H. Macy), asisten Haller yang membantunya dalam pengumpulan bukti-bukti juga terancam. Begitu pula keselamatan mantan istrinya Maggie (Marisa Tomei) dan putrinya.

Film berdurasi hampir dua jam ini bukanlah film bertema hukum dan kriminal terbaik yg pernah dibuat. Bisa jadi, A few good men adalah film terbaik yg pernah ada untuk tema seperti ini. Tapi berhubung udah lama banget ga nonton film seperti ini, rasanya udah bagus banget penyajiannya.
Matthew McConaughey berakting baik dalam film ini sebagai pengacara yg cuek dan sering menangani klien-klien yg notabene adalah musuh masyarakat seperti pengedar narkoba dan anggota geng; setidaknya itu yg ditangkap penonton melalui dialog pertengkaran dengan Maggie yg berprofesi sebagai pengacara penuntut. Bukan pertama kali Matthew berperan sebagai pengacara setelah film A Time to Kill (1996). Disebut Lincoln Lawyer karena ke manapun dia pergi selalu menaiki mobil Lincoln yg disupiri Earl (Laurence Mason). Phillippe, Tomei dan Macy juga berakting cukup bagus sesuai dengan perannya masing-masing.
Buat pecinta film kriminal, tentunya sayang untuk dilewatkan, dan diperlukan konsentrasi penuh untuk menonton film ini, karena dialog demi dialog serta argumentasi di meja hijau adalah kuncinya.

petualangan si konyol adele blanc-sec yang biasa saja

@Plasa Senayan XXI, studio 4, April 23 2011, 1815 hrs

Mengambil setting tahun 1912, kehebohan terjadi ketika seekor Pterodactyl tiba-tiba muncul berterbangan di langit kota Paris dan mengakibatkan 3 orang terbunuh.
Ternyata Pterodactyl itu keluar dari telur dinosaurus berumur ratusan juta tahun yang tersimpan di museum sejarah nasional, karena kekuatan telepati professor Espérandieu. Akibatnya professor uzur itu akan menghadapi hukuman pancung dengan guilotin.
Sementara Adele Blanc-sec seorang penulis buku petualangan fiksi, baru saja pulang dari Mesir sambil membawa mumi yg dipercaya adalah dokter pribadi Firaun di masa kejayaannya. Adele berharap professor Espérandieu dengan kekuatan telepatinya bisa membangkitkan mumi itu untuk menyembuhkan adiknya Agathe yg koma.
Adele merasa sangat bersalah atas kejadian yg menimpa Agathe waktu permainan tenis, di mana kepala Agathe tertusuk oleh pin rambut kepunyaan Adele.

Well, bagaimanakah Adele bisa menyelamatkan professor Espérandieu dari hukuman matinya? dan apakah Agathe berhasil di"hidup"kan kembali?

Film besutan Luc Besson yg berdurasi sekitar 105 menit ini diangkat dari sebuah komik, sehingga jadilah sebuah film komedi berbalut aksi-aksi konyol tokoh utamanya, Adele. Jangan terlalu berharap akan banyak kandungan misteri dan pelajaran sejarah di dalamnya seperti Indiana Jones-nya Steven Spielberg.
Tidak tanggung-tanggung, adegan mumi yg hidup kembali dan berjalan-jalan di dalam museum akan mengingatkan kita pada film Night of the museum. Yup, film ini adalah perpaduan The Mummy, Indiana Jones dan Night of the museum tapi dengan level yg lebih konyol, karena terus terang... apa yg dilakukan tokoh Adele di film ini semuanya tampak begitu mudah.

Overall, film ini memang cocok sebagai sebuah hiburan karena unsur komedi dan komikal di dalamnya sehingga tidak membosankan, meskipun di bagian awal penonton dibuat sedikit bingung dengan perkenalan tokoh-tokoh film ini yg sepertinya sama sekali tidak berhubungan.
Tapi itu saja, penonton yg kritis tentunya akan menuntut lebih, mengingat temanya seakan-akan ingin merangkum semua film petulangan yg telah ada sebelumnya, tapi ternyata tidak lebih spektakuler!

Hal yg agak mengganggu adalah film berbahasa prancis ini telah di-dubbing ke dalam bahasa inggris. What are they keep doing this??
Aktris Louise Borgoin berhasil menghidupkan karakter Adele dengan baik dengan gaya bicara yang cepat, namun sayang ..... sepertinya akan lebih menggelitik bila didengar dalam bahasa Prancis.
Sebetulnya komik Adele ini mempunyai beberapa seri, tapi mengingat film pertamanya ini tidak begitu sukses, tidak perlu berharap banyak akan ada kelanjutannya, kecuali Luc-Besson mau berusaha untuk improvisasi ide ceritanya. Kalau tidak, penonton akan lebih menunggu sekuel Indiana Jones dan kawan-kawannya dari Hollywood....

21 April 2011

Search of the EAGLE

@blitzmegaplex GI, audi 5, April 21st 2011, 1645 hrs

Akhirnya gua kesampaian juga nonton film ini, bayangin udah lebih dari sebulan film ini nangkring di blitz! Well, maklum sedang paceklik film impor, hehehe...

Berdurasi sekitar 110 menit, Channing Tatum berperan sebagai Marcus Aquila, putra Flavius Aquila komandan dari legiun tentara Romawi ke-9 yg menghilang secara misterius ketika menginvasi inggris utara (Skotlandia) pada tahun 120 sesudah masehi. Diduga legiun itu telah dibantai oleh bangsa barbar lokal. Marcus berusaha mengembalikan kehormatan sang ayah, sehingga ia meminta untuk ditugaskan di sebuah garnisun romawi di inggris. Setelah mengalami luka parah ketika garnisun itu diserang kaum barbar, ia tetap bertekad untuk mencari lambang supremasi "the Eagle" yg dibawa sang ayah ketika invasi 20 tahun lalu, meskipun telah diberhentikan secara hormat dari ketentaraan.

Bersama Esca (Jamie Bell), seorang budak inggris yg dibelinya dari sebuah pertarungan gladiator, Marcus menyeberangi dinding buatan kaisar Hadrian untuk memasuki kawasan inggris utara untuk mencari "the Eagle"...

Terus terang, agak sulit mencari nilai lebih dari film ini bila dibandingkan dengan Centurion yg mengambil cerita sama mengenai legiun ke-9, apalagi dengan Gladiator. Bisa jadi dikarenakan bujet yg terbatas mengakibatkan penggambaran kemegahan kerajaan romawi hampir tidak ada. Penonton tidak merasakan atmosfir Romawi di awal masehi, karena setting-nya yg kurang "deskriptif". Yang ada hanyalah sekelompok tentara romawi yg berperang melawan bangsa barbar, dan adegan Marcus dan Esca yg dikejar-kejar. Untuk urusan akting, penonton tidak dapat berharap banyak, sebuah penampilan biasa dari Tatum, aksen Hollywood-nya makin menghilangkan unsur ke"romawi"an film ini. Jamie Bell yg bertransformasi secara fisik berakting lebih bagus.
Lepas dari keakuratan sejarah yg ditampilkan, film ini tidak bisa dibilang jelek juga, at least untuk penonton yg menyukai sejarah Romawi bisa terhibur dengan adegan pertarungan yg disajikan secara close-up. Dialog-dialog dalam bahasa scottish kuno (atau bahasa anglo-saxon??) juga ditampilkan di sini oleh Jamie Bell dengan para aktor figuran. Namun di beberapa bagian akan meninggalkan pertanyaan di benak penonton, terutama bagaimana Marcus bisa diselamatkan dari serangan kaum barbar sewaktu garnisunnya diserang, ataupun adegan pertarungan di bagian akhir cerita.

Secara pribadi, gua merasa istilah barbar yg digunakan dalam dialog film ini kontradiktif dibandingkan dengan sejarah yang ada, di mana tentara romawi adalah salah satu kejahatan kemanusiaan dalam setiap peperangan, namun mereka menyebut bangsa skotlandia sebagai bangsa barbar. Apalagi di film ini, bangsa barbar itu ditampilkan dengan make-up putih dan pakaian minim ala suku pedalaman afrika. Mungkin definisi barbar di sini adalah make-up dan pakaian yg dikenakan oleh seseorang, hehehehe..... Plus, bangsa romawi sendiri suka mengadakan petarungan antara gladiator dan budak mereka, jadi siapa yg barbar yah?

17 April 2011

Triangle, teka-teki dunia paralel tanpa kesimpulan

@Blok M Square 21, studio 3, Apr 17th 2011, 1440 hrs

Antara Masjid, Klenteng dan Gereja

@Blok M Square 21, studio 1, Apr 17th 2011, 1245 hrs

Kota Semarang, awal 2010, di jalan Pasar Baru...
Setiap orang punya cerita...
Setiap pribadi punya masa lalu...
Setiap manusia mempunyai jalannya masing-masing dalam mencari Tuhan...
karena kita memang berbeda dan saling terkoneksi....
namun pluralisme dan perbedaan selalu saja menjadi sebuah tanda tanya...
Kira-kira pesan itu lah yg ingin ditampilkan Hanung dalam film ini...

Apakah ini akan menjadi film terbaiknya Hanung? Sepertinya tidak, masih banyak hal nonteknis dalam film ini yg perlu diperbaiki.
Terutama karakter Rika (Enditha), banyak penonton yg tidak menangkap latar belakang Rika pindah agama karena kurang eksplisit. Berpindahnya Rika ke agama lain terasa agak dipaksakan dan kurang kuat. Pemasangan kayu salib di rumahnya, padahal dia belum resmi menjadi Katolik. Biasanya keluarga Katolik yg melakukan hal ini setelah rumah mereka diberkati. Rika yg dibaptis setelah misa jumat agung, biasanya malam paskah ataupun hari paskah. Menjadi sebuah "tanda tanya" buat gua. Belum lagi pemain drama penyaliban Yesus yang dibayar. Dari pengalaman gua semua pemain itu adalah sukarelawan, palingan dikasi jemputan dan dapet nasi kotak, hehehehe.....

Di tengah film, alurnya menjadi dragging dan intensitasnya menurun, menjadi sebuah "tanda tanya" kenapa tiba-tiba para tokoh yg berseteru tiba-tiba jadi berbaikan segampang itu. Baik hendra (Rio Dewanto) dan ayahnya (Hengky Solaiman), ataupun Menuk (Revalina) dan Soleh (Reza). Sebetulnya ada beberapa dialog yg masuknya kurang pas dan terkesan dibuat-buat hanya untuk memancing konflik, terutama dialog antara mantan ibu kost Surya dengan Surya (Agus Kuncoro). Ga jelas kenapa tuh ibu kost kepo amat, kalo cuman telat bayar uang kost. Tapi dendam benerrrrr kesannya.... Overall, konflik yg digambarkan dalam film ini terasa digampangkan dan dibuat-buat; mungkin ini yg membuat "panas" ormas tertentu yg mengecam alur cerita film ini.
Begitu pula ending-nya , "tanda tanya" terakhir pun terukir dalam pikiran gua, karena sebetulnya bisa aja Soleh melempar "barang" tersebut jauh-jauh...Mungkin biar dramatis....

Well, at least Hanung udah berani mengangkat tema pluralisme yg notabene adalah salah satu tema favorit gua.

Tapi Hanung berhasil memberikan unsur komikal yg menurut gua one of the best part in this movie yaitu pengamen jalanan yg menyanyikan lagu-lagu lawas Sheila on 7, that's nice! Juga adegan komedi lewat tokoh Surya, karena penonton paling sering ketawa lewat pemunculan karakter yang satu ini .

Sepertinya Semarang itu adalah salah satu lokasi suting favoritnya Hanung yah?? Lokasi gedung di pertigaan ketika Hendra berantem dengan segerombolan pria yg akan sholat di mesjid, itu lumayan sering muncul di film-film berlatar belakang historis. Kebiasaan barunya akhir-akhir ini adalah memunculkan istrinya sebagai cameo,termasuk pula anaknya, hehehehhe.... Btw, Zaskia jadi casting director di film ini (again?), sayang pas gua ngedipin mata, nama Zaskia muncul tapi ga keliatan sebagai apa.

Dari segi akting, peran Reza dan Revalina emang ga jauh-jauh dari hampir semua film yg sebelumnya bertemakan religi. Hanya saja di film ini, Reza diberi sedikit sentuhan antagonis. Agak aneh, kenapa Soleh ini selalu berusaha rekonsiliasi ama istrinya ketika istrinya sedang bekerja?? Ngapain coba waktu di rumah? Rio Dewanto, dohh... bahasa tubuhnya kaku bener... Enditha... hampir ga pernah nonton filmnya, jadi ga bisa comment banyak, meski cocok juga sebagai single parent dan tough woman. Hengky Solaiman dan Deddy sutomo, they are 70 years old this year! Salut buat mereka. Dann.... akting terbaik pun gua berikan kepada Agus Kuncoro yg berperan sebagai pemuda 30 tahun, piyo toh mas agoss.... udah mau kepala 4 loh.... tapi basically karakter dan aktingnya emang yg paling menonjol di film ini. Semoga Agus ini dapet nominasi di FFI mendatang, asal film Hanung ini termasuk dalam daftar seleksi film ajahh... hehehehe..
Wait... last but not the least, is that Glenn Fredly?? OMG, he is gaining some weight... with different style of glasses!

M.A.C.H.E.T.E

@Karawaci 21, studio 3, Mar 27th 2011, 1650 hrs

Mata Anak-Anak

@Season City XXI, studio 2, Mar 12th 2011, 1830 hrs

21 Februari 2011

The Fighter

@Senayan City XXI, studio 2, Feb 19th 2011, 1915 hrs